Arsip Kategori: Berita

2
Apr

Pemkab Sleman jamin Ketersediaan Pangan

Pemerintah Kabupaten Sleman memastikan ketersediaan beras di wilayah Kabupaten Sleman mencukupi hingga enam bulan ke depan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo dalam kegiatan panen raya padi di Bulak jabung, Pandowoharjo, Rabu (1/3). “Dengan produktivitas 57,25 kuintal per-hektar dalam luas 7.576 hektar, dapat menambah ketersediaan beras sejumlah 27.766 ton dan dapat dipastikan cukup untuk ketersediaan hingga 6 bulan ke depan,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga menjelaskan produktivitas dalam panen padi di Sleman ditunjang oleh system panen dengan menggunakan mesin padi (combine harvester) yang dinilai dapat menekan biaya yang biasa dikeluarkan jika melakukan panen padi secara manual. “Maka dari itu, saya menghimbau kepada masyarakat sleman agar tidak menimbun atau membeli beras secara berlebihan. Jangan sampai terjadi panic buying padahal ketersediaan pangan kita mencukupi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa ketersediaan komoditas pangan yang masih mengalami surplus sampai dengan akhir bulan April tahun 2020 yaitu beras sebanyak 39.377 ton, cabai 222 ton, daging ayam 5.576 ton, telur 494 ton dan ikan sebanyak 4.916 ton.

 

31
Mar

UMKM Binaan Dinas Koperasi Sleman Siap Penuhi Kebutuhan APD, Masker, dan Sanitizer


Wabah dan penyebaran Virus Corona atau Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Tiongkok semakin marak belakangan ini. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat termasuk di Indonesia. Berbagai cara pencegahan penularan  telah dilakukan oleh masyarakat, salah satunya dengan menggunakan APD bagi tenaga medis,  masker, dan sanitizer.
Terdapat beberapa cara untuk menghindari Virus Corona ini. Masyarakat harus sering mencuci tangan dengan sabun, sanitizer,  dan menghindari kontak dengan orang sakit dan hewan liar. Ditambah, masyarakat wajib untuk mencegah penularan Virus Corona dengan menggunakan masker. Penggunaan masker dinilai sangat efektif karena terdapat teknologi pada masker yang mencegah virus masuk ke tubuh.
Terdapat dua macam masker, yaitu masker bedah dan masker N95. Kedua jenis masker tersebut sama-sama dapat mencegah penyebaran bakteri dan virus. Oleh karenanya, penggunaan masker tersebut memang sangat diperlukan oleh masyarakat.
Hal ini menyebabkan masyarakat akhirnya berlomba-lomba membeli APD, masker, sanitizer, dan bahan-bahan pembuatan desinfektan. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya lonjakan harga APD,  masker, sanitizer, dan bahan pembuat desinfektan secara ekstrem di masyarakat.
Di Jogja, harga masker bermerek OneMed yang biasanya dijual seharga Rp 5.000 per pak meningkat menjadi Rp 60.000 per pak. Demikian juga  masker merek Sensi yang biasanya dijual Rp 18.000 per kotak meningkat hingga Rp 120.000 per kotaknya. Salah satu lapak online bahkan menjual masker jenis N95 seharga Rp 3.000.000 untuk sepuluh paknya. Padahal sebelumnya masker N95 dijual hanya sekitar Rp 20.000 saja. Begitu juga dengan sanitizer dan bahan-bahan komponen pembuatan disinfektan, harganya sangat tinggi.
Kenaikan harga ini dimungkinkan juga terjadi karena adanya  excess demand. Excess Demand akan terjadi ketika permintaan barang tidak seimbang dengan ketersediaan barang sehingga harga barang meningkat. Terjadi kelangkaan stok masker di berbagai daerah disebabkan permintaan yang begitu tinggi. Sehingga terjadilah pelonjakan harga APD bagi tenaga medis, masker, dan sanitizer  yang sangat ekstrem.
Pelonjakan harga masker memberikan dampak yang cukup besar. Di tengah-tengah ketakutan akan tertular Virus Corona, masyarakat kesulitan untuk melakukan pencegahan. Terutama bagi kalangan masyarakat tidak mampu yang untuk membeli makan saja mereka kesulitan. Belum lagi jika mereka tertular Virus Corona, apakah mereka mampu membiayai pengobatannya.
Oleh karena itu masker kini menjadi barang paling dicari saat ini. Masker diklaim sebagai barang pelindung agar melindungi kita dari tetesan-tetesan air yang keluar dari mulut. Hal ini kerap terjadi saat seseorang sedang ngobrol dengan orang lain. Selain itu, masker menjadi barang yang wajib dikenakan oleh tenaga medis yang sedang merawat pasien, maupun masyarakat saat berada di luar rumah maupun sedang berinteraksi dengan orang lain
Selain masker, hand sanitizer juga termasuk kedalam daftar barang most wanted. Tuntutan untuk tetap bersih dan higienis memaksa masyarakat untuk membekali mereka dengan hand sanitizer, agar bisa membersihkan tangan mereka dimana saja dan kapan saja.Sayangnya, hal ini malah dijadikan peluang usaha oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan membeli dan menimbun hand sanitizer dalam jumlah banyak. Setelah itu, penjual akan menjualnya dengan harga yang sangat mahal
Ditengah tingginya kebutuhan masyarakat dan mahalnya harga APD, masker, dan sanitizer tersebut, Dinas Koperasi UKM Kabupaten Sleman melalui UMKM binaannya siap untuk membantu menyediakannya dengan harga “normal”  dan  terjangkau oleh masyakat.

Wabah dan penyebaran Virus Corona atau Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Tiongkok semakin marak belakangan ini. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat termasuk di Indonesia. Berbagai cara pencegahan penularan  telah dilakukan oleh masyarakat, salah satunya dengan menggunakan APD bagi tenaga medis,  masker, dan sanitizer. Terdapat beberapa cara untuk menghindari Virus Corona ini. Masyarakat harus sering mencuci tangan dengan sabun, sanitizer,  dan menghindari kontak dengan orang sakit dan hewan liar. Ditambah, masyarakat wajib untuk mencegah penularan Virus Corona dengan menggunakan masker. Penggunaan masker dinilai sangat efektif karena terdapat teknologi pada masker yang mencegah virus masuk ke tubuh.Terdapat dua macam masker, yaitu masker bedah dan masker N95. Kedua jenis masker tersebut sama-sama dapat mencegah penyebaran bakteri dan virus. Oleh karenanya, penggunaan masker tersebut memang sangat diperlukan oleh masyarakat.Hal ini menyebabkan masyarakat akhirnya berlomba-lomba membeli APD, masker, sanitizer, dan bahan-bahan pembuatan desinfektan. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya lonjakan harga APD,  masker, sanitizer, dan bahan pembuat desinfektan secara ekstrem di masyarakat.Di Jogja, harga masker bermerek OneMed yang biasanya dijual seharga Rp 5.000 per pak meningkat menjadi Rp 60.000 per pak. Demikian juga  masker merek Sensi yang biasanya dijual Rp 18.000 per kotak meningkat hingga Rp 120.000 per kotaknya. Salah satu lapak online bahkan menjual masker jenis N95 seharga Rp 3.000.000 untuk sepuluh paknya. Padahal sebelumnya masker N95 dijual hanya sekitar Rp 20.000 saja. Begitu juga dengan sanitizer dan bahan-bahan komponen pembuatan disinfektan, harganya sangat tinggi.
Kenaikan harga ini dimungkinkan juga terjadi karena adanya  excess demand. Excess Demand akan terjadi ketika permintaan barang tidak seimbang dengan ketersediaan barang sehingga harga barang meningkat. Terjadi kelangkaan stok masker di berbagai daerah disebabkan permintaan yang begitu tinggi. Sehingga terjadilah pelonjakan harga APD bagi tenaga medis, masker, dan sanitizer  yang sangat ekstrem.
Pelonjakan harga masker memberikan dampak yang cukup besar. Di tengah-tengah ketakutan akan tertular Virus Corona, masyarakat kesulitan untuk melakukan pencegahan. Terutama bagi kalangan masyarakat tidak mampu yang untuk membeli makan saja mereka kesulitan. Belum lagi jika mereka tertular Virus Corona, apakah mereka mampu membiayai pengobatannya.Oleh karena itu masker kini menjadi barang paling dicari saat ini. Masker diklaim sebagai barang pelindung agar melindungi kita dari tetesan-tetesan air yang keluar dari mulut. Hal ini kerap terjadi saat seseorang sedang ngobrol dengan orang lain. Selain itu, masker menjadi barang yang wajib dikenakan oleh tenaga medis yang sedang merawat pasien, maupun masyarakat saat berada di luar rumah maupun sedang berinteraksi dengan orang lain Selain masker, hand sanitizer juga termasuk kedalam daftar barang most wanted. Tuntutan untuk tetap bersih dan higienis memaksa masyarakat untuk membekali mereka dengan hand sanitizer, agar bisa membersihkan tangan mereka dimana saja dan kapan saja.Sayangnya, hal ini malah dijadikan peluang usaha oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan membeli dan menimbun hand sanitizer dalam jumlah banyak. Setelah itu, penjual akan menjualnya dengan harga yang sangat mahalDitengah tingginya kebutuhan masyarakat dan mahalnya harga APD, masker, dan sanitizer tersebut, Dinas Koperasi UKM Kabupaten Sleman melalui UMKM binaannya siap untuk membantu menyediakannya dengan harga “normal”  dan  terjangkau oleh masyakat.


31
Mar

Cegah Penyebaran Covid-19, Pemkab Sleman Batasi Jam Operasional Pasar dan Swalayan

Untuk meminimalisir  resiko penyebaran Virus Corona dan mengurangi kerumunan orang maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman mengeluarkan  pembatasan jam operasional untuk pasar rakyat melalui surat  Pemkab Sleman Nomor 360/00872 terhitung mulai tanggal 30 Maret 2020. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman juga mengeluarkan pembatasan jam operasional untuk Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan melalui surat Pemkab Sleman Nomor 360/00871 mulai tanggal 30 Maret 2020 sampai dengan masa tanggap darurat selesai.
Kepala Disperindag Kabupaten Sleman, Dra. RR. Mae Rusmi S, MT mengatakan untuk jam operasional pasar rakyat di Kabupaten Sleman diatur dengan ketentuan jam tutup maksimal sampai jam 13.00 WIB. Sementara untuk ketentuan jam buka bagi Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan buka minimal mulai pukul 10.00  sampai dengan jam tutup maksimal jam 20.00 WIB.
Sementara itu Bupati Sleman juga mengeluarkan himbauan untuk tidak melakukan penimbunan barang kebutuhan pokok melalui surat Bupati Sleman nomor 500/0856. Surat ini ditujukan kepada pelaku usaha, pedagang, distributor, sub distributor, agen, sub agen pengelola dan penyewa gudang di Wilayah Kabupaten Sleman.Himbauan ini dikeluarkan dalam rangka menjaga ketersediaan dan kelancaran arus barang khususnya barang kebutuhan pokok dan barang penting lainnya.
Dalam surat himbauan ini juga disampaikan sanksi bagi pelanggar yakni dijerat pasal 107 UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang perdagangan yang berbunyi bari pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok atau barang kebutuhan penting  dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga dan hambatan lalu lintas perdagangan barang diancam pidana penjara 5 tgahun dan  denda paling banyak RP 50 milyar.

 

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.