Arsip Kategori: Berita

31
Mar

Pemkab Sleman Apresiasi Kinerja Para Juru Kunci Air


Peringatan Hari Air Sedunia tahun ini mengangkat tema “Water and Jobs” atau “Air dan Pekerjaan”. Hubungan antara air dan pekerjaan diangkat menjadi tema tahun ini karena air memiliki peran penting dalam pekerjaan. Data juga menunjukkan bahwa setengah dari jumlah kaum pekerja di dunia bekerja di bidang yang berhubungan dengan air dan hampir seluruh pekerjaan bergantung pada air.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa air dapat mengubah kondisi ekonomi serta keadaan suatu masyarakat. Kondisi air, baik kualitas maupun kuantitas dapat mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo saat membuka sarasehan Hari Air di pendopo Rumah Dinas Selasa (29/3).
Lebih lanjut disampaikan bahwa berbagai peraturan berkaitan dengan air sudah dibuat. Diharapkan peraturan tersebut dapat ditegakkan dan menjadi acuan pengelolaan air di Sleman. Pada kesempatan tersebut bupati  menghimbau agar segala bentuk pekerjaan dan industri di Kabupaten Sleman yang berhubungan dengan air dapat memanfaatkan air secara bijak dan sesuai dengan peraturan yang ada. Penggunaan air bersih harus dikelola dengan baik dan melakukan upaya untuk meminimalisir pencemaran air oleh limbah industri atau limbah dari aktivitas pekerjaan.
Pemkab Sleman juga senantiasa mengupayakan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yaitu yang pertama adalah konservasi sumber daya air, yang kedua adalah pendayagunaan sumber daya air dan ketiga yaitu pengendalian daya rusak air.
Konservasi sumber daya air di Sleman telah dan terus dilakukan diantaranya dengan pembangunan embung sebagai tangkapan air, penanaman pohon pada lahan kritis dan pada bantaran sungai. Sedang pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan memanfaatkan embung untuk pertanian, perikanan dan pariwisata serta pengembangan air minum pedesaan. Sedangkan untuk pengendalian daya rusak air dilakukan dengan perbaikan tanggul-tanggul sungai yang sempat mengalami kerusakan saat  terjadi erupsi dan banjir.
Pada hari Sabtu 12 Maret 2016 terjadi banjir di beberapa titik di wilayah Sleman yang diakibatkan tingginya curah hujan yang terjadi. Kejadian ini  menyebabkan kerusakan  infrastruktur irigasi sehingga berdampak pada 26 daerah irigasi dan menyebabkan terganggunya pasokan irigasi lahan pertanian seluas 1064,8 hektar. Hal ini menjadi pelajaran kita bersama untuk dapat meningkatkan pengelolaan air agar lebih baik lagi.
Bupati mengajak semua pihak untuk meningkatkan tangkapan air hujan agar tidak langsung melimpah ke sungai dan menyebabkan banjir. Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk memasukkan air ke tanah diantaranya dengan memperbanyak penanaman pohon, membangun peresapan dan membuat biopori. Dan tak kalah pentingnya saya juga mengajak semua pihak untuk menjaga kebersihan sungai dari sampah untuk mencegah terjadinya banjir yang disebabkan tersumbatnya sungai.
Sementara itu Kepala Dinas SDAEM Ir. Sapto Winarno, MT melaporkan bahwa  peserta dalam sarasehan tersebut adalah para pengampu, pengelola, ataupun juru kunci mata air se-Kabupaten Sleman. Lebih lanjut dilaporkan bahwa  tema sarasehan tingkat kabupaten sleman “ Banyu Kanggo Kautaman lan Karaharjan” Sedangkan sampai tahun 2016 keberadaan mata air yang sudah teridentifikasi oleh Dinas SDAEM Kabupaten Sleman sebanyak 218 mata air yang tersebar di 17 kecamatan. Dari sekian banyak mata air  yang ada sudah 32 mata air yang ditangani/diturap oleh Dinas SDAEM Kabupaten Sleman. Selain penurapan juga telah dilakukan paembinaan terhadap pengelola mata air yang sampai dengan tahun 2016 sudah dibentuk 10 OPPMA (Organisasi Petani Pengelola Mata Air)
Pada kesempatan tersebut juga diserahkan sertifikat/piagam penghargaan  saecara simbolis kepada juru kunci mata air Umbul Wadon (Bapak Pujo), juru kunci mata air Sibedug (Bapak Jumari) dan juru kunci mata air Jongke Lor (Bapak Soediharjo) oleh Bupati Sleman

 

30
Mar

Sleman Tambah 5 Sekolah Siaga Bencana

Raungan sirine tanda bahaya Merapi membuyarkan konsenterasi kegiatan belajar mengajar SD Glagahharjo siang itu. Poniyam sang kepala sekolah sontak mengumpulkan para guru wali kelas untuk berkoordinasi, tak lama para siswa digiring menuju halaman sekolah dengan posisi tas menutupi kepala. Ketegangan semakin menjadi, raut wajah takut dan kebingungan tidak dapat disembunyikan dari balik masker yang menutupi wajah mereka. Empat truk evakuasi dari BNPB dan dua mobil ambulan pun datang, para guru dan tim evakuasi bergegas menaikkan siswa untuk dievakuasi ketempat yang lebih aman. Kurang lebih demikian situasi yang tergambar dalam simulasi bencana yang menjadi  rangkaian acara dalam peresmian Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang diadakan oleh BPBD DIY dan Dikpora Kabupaten Sleman di SD Glagaharjo, Cangkringan, Sleman pada Selasa (29/3).

Sekretaris BPBD DIY Heru Suroso yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa ada lima sekolah di Cangkringan yang dikembangkan sebagai SSB  yaitu SD Negeri Srunen, SD Negeri Glagaharjo, SD Negeri Bronggang, SD Negeri Banaran, dan SD Muhammadiyah Cepitsari. Menurutnya, dengan lahirnya SSB ini diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi bencana. “Kapasitas dan eksistensi simulasi harus kita jaga supaya tercipta masyarakat tangguh bencana”, ungkap Heru.

Kepala Dikpora Kabupaten Sleman Arif Haryono SH. mewakili sambutan Bupati Sleman mengungkapkan bahwa dengan diresmikannya lima SD di Kecamatan Cangkringan sebagai sekolah siaga bencana, maka Kabupaten Sleman sampai saat ini telah memiliki  13 sekolah yang berpredikat sebagai Sekolah Siaga bencana. Bupati dalam sambutannya menghimbau agar mitigasi bencana harus menjadibagian dari budaya dan local wisdom masyarkat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harusdimulai sejak dini. Diperlukan kesiapsiagaan semua pihak menghadapi bencana sebagai langkah strategis dalam pengurangan resiko bencana, tidak terkecuali di lingkungan sekolah. Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjangyang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.

Ditemui diakhir acara peresmian, Poniyam S.Pd selaku Kepala SD Glagaharjo mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya rutin menggelar acara simulasi dua kali sebulan dengan BPBD. Hal tersebut dilakukannya bersama jajaran guru dan para siswa karena sadar lokasi SD Glagaharjo termasuk dalam kategori daerah rawan bencana. Menurutnya pada November 2010 SD glagaharjo terkubur material akibat erupsi Merapi dan baru direlokasi pada Januari 2012.

Tidak hanya dari simulasi saja namun Poniyam juga bekerjasama dengan wali murid dalam mendukung sarana dan prasarana terutama dalam hal transportasi untuk evakuasi. ”Kami bekerjasama dengan para wali murid untuk armada pengangkut ketika terjadi bencana, karena kami harus sigap tidak mungkin terlalu lama menunggu bantuan armada dari instansi terkait saat bencana terjadi”, ungkap Poniyam.

29
Mar

34 Sekolah Siap Selenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer

Dinas Pendidikan dan Olahraga  Kabupaten Sleman serius mempersiapkan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan diikuti 34 sekolah se-Kabupaten Sleman. Dalam kunjungannya memantau hari terakhir simulasi UNBK di SMK N I Godean pada Senin (28/3), Drs. Eri Widaryana MM. selaku Kepala Bidang Kurikulum dan Kesiswaan Dikpora mengungkapkan bahwa pihaknya telah siap dalam pelaksanan Ujian Nasional di Kabupaten Sleman baik yang paper based maupun berbasis komputer, namun untuk pelaksanaan UNBK pihaknya akan melakukan langkah antisipatif untuk mendukung kelancaran selama proses ujian berlangsung. “Kami akan kirim surat dan sowan langsung ke PLN untuk meminta bantuan agar tidak ada pemadaman listrik selama masa UNBK”, ungkap Eri.

Sedangkan untuk kelancaran akses internet Eri mengungkapkan bahwa Dikpora mempercayakan Telkom untuk menyediakan dan mengatur kebutuhan bandwith masing-masing sekolah agar tidak terjadi masalah selama UNBK berlangsung.
Eri juga menambahkan bahwa Dikpora akan terus berkoordinasi dengan para kepala sekolah  untuk memantapkan kesiapan dalam penyelenggaraan ujian nasional serta melakukan pembekalan pada para petugas pengawas ujian nasional. “Intinya kami sudah siap dalam pelaksanaan ujian nasional, hari ini kami juga baru berkoordinasi untuk pemantauan dan pengamanan droping soal yang dilaksanakan oleh Dikpora DIY bagi sekolah yang melakukan paper base test dalam ujian nasional”, tambahnya.
Ditemui secara bersamaan Kepala SMK N I Godean Agus Waluyo mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan kedua kalinya penyelenggaraan UNBK disekolah yang dipimpinnya dengan peserta sebanyak 282 siswa. Menurutnya pihak sekolah  juga menyiapkan genset untuk mengantisipasi jika listrik padam saat UNBK berlangsung. Secara teknis menurut Agus dari aplikasi atau sistem vertikal yang digunakan komputer server sudah di backup dengan UPS sehingga tidak akan mati, apabila komputer yg digunakan siswa/ klien mati maka penghitungan waktu juga akan berhenti dan sistem pada server secara otomatis akan mencatat waktu terakhir.
“Dengan sistem pencatatan waktu tersebut siswa tidak akan dirugikan, karena apabila komputer klien mati dan sudah dihidupkan lagi maka waktu pengerjaan tes melanjutkan saat waktu terakhir tercatat ketika komputer mati, maka dari itu kami juga menyiapkan genset”, ungkap Agus.

 

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.