Arsip Kategori: Berita

7
Feb

Parlemen Hungaria Beri Paket Bantuan Untuk Anak-Anak dan Pengungsi

Sabtu 5 Februari 2010, rombongan Parlemen Hungaria mengunjungi sekolah darurat (shelter school) SD Pangukrejo. Sebelum berkunjung ke shelter SD Pangukrejo, rombongan terlebih dulu melihat kondisi wilayah dusun Kinahrejo dan lokasi SD Pangukrejo yang rusak akibat erupsi Merapi tanggal 5 November 2010 lalu.

Rombongan Parlemen Hungaria memberikan bantuan berupa 200 paket alat tulis dan sembako bagi siswa-siswi SD Panguk rejo dan keluarganya. Bantuan ini diserahkan langsung oleh anggota parlemen kepada para siswa, guru dan orang tua siswa.

Kepala Sekolah SD Pangukrejo, Topo Mandianto, menjelaskan bahwa siswa SD Pangukrejo sekarang sebanyak 98 siswa, satu orang diantaranya berasal dari SD Petung. Seluruh siswa di Sd Pangukrejo tidak lagi memiliki rumah. Sebanyak 23 siswa tinggal di shelter dan 74 siswa masih tinggal di barak pengungsian Balai desa Umbulharjo.

Bupati Sleman, Sri Purnomo, menyampaikan rasa terimakasih atas bantuan yang telah diberikan oleh parlemen Hungaria. Seperti diketuhi bersama bahwa bencana erupsi Merapi telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian yang tidak sedikit. Sebagian masyarakat bahkan masih tinggal di pengungsian dan huntara. Secara khusus Bupati juga menyampaikan terimakasih atas simpati dari masyarakat Hungaria. Bupati juga berharap agar hubungan antara Hungaria dan Indonesia khususnya Sleman dapat terus terjalin dan kerjasama semakin baik di masa mendatang.

Ketua parlemen Hungaria (National Assembly of Hongary), Laslo Kover mengatakan bahwa masyarakat Hongaria mengetahui dari media massa bahwa Indonesia terjadi bencana erupsi gunung Merapi.  Sebagian besar warga masyarakat Hongaria tidak bisa membayangkan bagaimana bencana itu terjadi sehingga Laslo dan rombongan parlemen menyempattkan diri untuk datang langsung mengunjungi lokasi bencana dan bertemu dengan anak-anak di sekolah darurat.

Laslo menyatakan bahwa masyarakat Hungaria pernah merasakan tertimpa bencana sehingga dapat turut merasakan apa yang dialami oleh para korban erupsi Merapi. Laslo berharap agar bantuan ini dapat bermanfaat khususnya bagi anak-anak agar dapat segera kembali belajar untuk membangun masa depannya. Secara khusus Laslo berharap agar bencana ini tidak terjadi lagi di masa mendatang.

4
Feb

Sleman Kembali Galakkan Gerakan Jumat Bersih

Tim Gerakan Jum’at Bersih pada hari Jumat tanggal 4 Februari 2011 mendatangi 66 rumah yang ada di Dusun Gondangan, Penen, Sendangadi, Kecamatan Mlati Sleman. Dari 66 rumah tersebut yang positif ada jentiknya 14 rumah hingga ABJ (Angka bebas jentik) nya 76,66 %, padahal seharusnya diatas 95%. Di Dusun tersebut yang diduga kena Demam Berdarah 5 orang, tetapi yang positif hanya 2 orang.


Tim Jumat Bersih terdiri atas petugas dari Dinas Kesehatan, Bappeda, Bagian Kesra, Dikpora, TP PKK, Depag, Kodim 072 Sleman, Koramil Sleman. Tim Jumat Bersih dipimpin oleh Kabid P2PL(Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan) dr Cahya Purnama, M.Kes .

Dalam kesempatan tersebut dr Cahya Purnama berpesan agar masyarakat selalu memperhatikan kebersihan lingkungan, termasuk tutup botol atau tampungan air di dispenser dan kulkas maupun  barang-barang yang berpotensi untuk genangan air, karena di tempat tersebut dimungkinkan untuk sarang nyamuk. Nyamuk begitu menetas langsung menularkan virus.Termasuk di tempat masjid, dalam bak penampungan air seharusnya dikuras paling tidak seminggu sekali. Yang juga perlu diperhatikan adalah tidak hanya bersih lingkungan di luar rumah, tetapi kebersihan dalam rumah harus diperhatikan pula. Selain itu pencegahan DB  dengan 3 M plus ( Menutup, Menguras,  mengubur,)  plusnya yaitu ikanisasi.


Disampaikan pula bahwa Foging bukan satu-satunya pencegahan DB, tetapi lebih baik dengan pemusnahan jentik. Mengingat kalau dengan foging efek yang ditimbulkan akan bahaya karena menggunakan insektisida. Oleh karena itu kalau foging dilakukan sendiri harus hati-hati dengan bahaya insektisidanya. Yang lebih penting adalah pengendalian lingkungan atau jentiknya itu lebih efektif.


Berdasarkan data pada tahun 2009 kasus DB di Kab Sleman mencapai 551 dengan 5 meninggal dunia, sedangkan tahun 2010 Kasus DB di Kab Sleman mencapai 603 kasus dengan 3 meninggal dunia. Atau dibanding tahun lalu terjadi kenaikan 52 kasus atau 9,43 % dan penurunan jumlah kematian dari 5 menjadi 3. Kematian tersebut dipastikan karena sebab DBD setelah dilakukan Audit terbatas kematian DBD oleh nara sumber ahli dari RSUP Sardjito.


Adapun jumlah kasus DBD terbanyak 2010 adalah : Kecamatan Kalasan 143 kasus, Depok 90 kasus, Gamping 84 kasus, Godean 60 kasus, Mlati 52 kasus.

Langkah langkah antisipasi yang dilakukan oleh Dinkes Sleman  yaitu :

1.       Seruan kewaspadaan dini terhadap DBD sejak memasuki awal musim hujan dengan gerakan 3 M plus.

2.       Monitoring Gerakan Jumat Bersih (GJB) sekaligus gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh tim Pokjanal DBD Kabupaten ke kecamatan-kecamatan yang tinggi kasus DBD nya.

3.       Pembinaan kepada masyarakat untuk pelaksanaan pemberantasan jentik berkala secara mandiri (PJB Mandiri).

4.       Revitalisasi Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL0 DBD Tingkat Kabupaten ke Kecamatan dan desa.

5.       Rakor tingkat kabupaten , tingkat kecamatan dan feed back Puskesmas ke desa.

6.       Pembinaan lokasi percontohan bebas DBD dengan pengembangan pranata social setempat.

7.       Peningkatan pelaksanaan surveilans berbasis masyarakat yaitu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat dengan pengamatan/ pemantauan, melaporkan dan memberikan informasi kepada petugas kesehatan terkait.

8.       Penanggulangan DBD melalui kegiatan penyelidikan epidomologi (PE) terhadap setiap laporan kasus DBD, Penyuluhan DBD kepada masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pemberian larvasida secara gratis kepada masyarakat untuk membasmi jentik nyamuk, fogging focus sesuai indikasi.

9.       Audit terbatas kematian DBD dengan menghadirkan nara sumber ahli untuk memastikan sebab kematian, serta berkoordinasi dengan pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta untuk penerapan SOP/Protap penanganan DBD terbaru.


4
Feb

175 Pengungsi dipindahkan ke Huntara Banjarsari dan Kenthingan

Pembangunan huntara bagi pengungsi erupsi Merapi pada saat ini telah mencapai 49,5% namun demikian angka tersebut bukan berarti huntara sudah jadi dan siap dihuni namun dalam progres atau proses pembangunan yaitu penyiapan kuda-kuda dsb.

Sementara huntara yang telah dihuni yaitu total 150 huntara, yang terdiri dari 100 huntara di Plosokerep dan 50 huntara di Kuwang. Huntara yang mulai dihuni tanggal 2 Februari 2011 yaitu 149 huntara di Banjarsari dan 26 huntara di Kenthingan.  Pemindahan pengungsi dari barak ke huntara Banjarsari dan Kenthingan ini dilakukan pada  2 Februari lalu.

pemindahan pengungsi ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Sri Purnomo dan diberikan kepada Kepala Dusun Ngancar. Pada kesempatan tersebut bupati mengharapkan agar dalam menempati huntara ini dijalani layaknya hidup di lingkungan yang lama, juga agar dibentuk kepengurusan dalam padukuhan misalnya kelompok kamling mengingat lama tinggal di huntara ini belum bisa ditentukan hingga berapa lama.

Terkait dengan ternak yang mati, Sri Purnomo meminta agar uang di rekening masing-masing yang sudah diterima agar dibelikan sapi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. untuk itu akan disediakan kandang ternak kelompok sehingga tidak perlu membuat kandang sendiri-sendiri. Dengan kandang kelompok maka pengawasan akan lebih aman dan mudah. Disamping itu, kebersihan lingkungan akan lebih terjamin karena berada dalam satu komplek yang tentunya lebih mudah mengurusnya.

Sementara Plt. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Drs. Urip Bahagia dalam laporannya antara lain mengatakan bahwa pembangunan huntara bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat ditargetkan sejumlah 2.613 unit yang tersebar di 2 kecamatan (Cangkringan dan Ngemplak). kawasan huntara ini juga dilengkapi dengan fasum dan fasos seperti musholla, kandang ternak, kolam ikan dan balai pertemuan. Masing-masing KK juga mendapat paket kompor dan gas 3 kg, selimut, peralatan dapur dan makan, jadup, beras, tikar dan susu.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.