Arsip Kategori: Berita

5
Mar

Pemkab Sleman Tutup TPA Liar di Sempu, Wedomartani, Ngemplak

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman bersama SatpolPP didukung oleh Anggota Polsek dan Koramil Ngemplak serempak menutup TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah liar di dusun Sempu, Wedomartani Ngemplak. Penutupan TPA ditandai dengan pemasangan tanda larangan membuang sampah persi di lokasi TPA dan jalan masuk ke TPA serta dengan penutupan jalan masuk menggunakan bambu oleh warga setempat. Kepala BLH Sleman Drs. Purwanto memimpin langsung penutupan didampingi Camat, Kepala Desa, Kadus Sempu serta RT dan RW setempat.

Penutupan ini mendapat dukungan masyarakat setempat mengingat keberadaan TPA seluas kurang lebih 2.500 m2 ini sangat mengganggu lingkungan dan telah berlangsung cukup lama. Kadus Sempu Sarijo mengatakan tempat tersebut sebelumnya ditambang dan diambil pasirnya sedalam sekitar 12 meter sekitar 10 tahun yang lalu dan kemudian diurug menggunakan material. Lama kelamaan sampah juga diperbolehkan masuk untuk dibuang ditempat itu dan bahkan dikelola oleh Ibu Musirah pemilik rumah di depan TPA liar dengan ditarik retribusi Rp 500 ribu perbulan/colt. Kadus bersama warga telah berkali-kali mengingatkan kepada pengelola namun selalu saja tidak ditanggapi dan kaduspun tidak mengetahui siapa sebenarnya pemilik lahan. Dengan adanya penutupan ini masyarakat sangat mendukung karena saat ini sudah banyak sumur warga yang tercemar limbah dan airnya berwarna kuning dan baunya tidak enak sehingga tidak layak untuk mandi, cuci apalagi minum. Menurut Dodi yang mengontrak rumah di dekat TPA liar ini air sumurnya berwarna kuning sudah sejak 1 bulan yang lalu dan dirinya mengontrak baru 2 bulan, sebulan menempati sumur ternyata tercemar. Sehingga untuk kebutuhan air dia terpaksa mencari ke tempat lain. Menurut Dodi pencemaran air sudah mencapai radius 200 meter sehingga sudah ada yang menjual rumahnya karena tidak nyaman dengan kondisi air dan lingkungan sekitar TPA liar.
Sementara itu Drs. Purwanto mengatakan Pemkab Sleman serius menanggapi keberadaan TPA liar ini sehingga setelah diadakan koordinasi dengan pihak terkait langsung menutup TPA ini karena sudah jelas melanggar perda Nomor 14 tahun 2007 dengan ancaman dengan Rp 50 juta dan kurungan 3 bulan. Setelah adanya penutupan resmi ini bila masih ada yang nekat membuang sampah maupun yang menikmati retibusi TPA liar ini, maka silahkan aparat untuk menangkap dan diproses sesuai dengan aturan yang berlaku. BLH juga telah membangun depo sampah di Purwomartani yang bisa dimanfaatkan dan apabila terdapat kelompok yang mengelola sampah  maka bisa disediakan  bak sementara dengan  mengikuti aturan yang telah ditetapkan dalam pengelolaan sampah. Pasca penutupan ini diserahkan pengawasan kepada Camat dan Kades Wedomartani untuk selalu memantau perkembangan dan nantinya TPA liar tersebut akan di urug tanah namun sebelumnya sampah yang volumenya cukup banyak dan menggunung akan diratakan terlebih dulu.


5
Mar

Dirjen Pendidikan Dasar Resmikan Sekolah Shelter SDN Selomulyo

Gedung Sekolah Shelter di SDN Selomulyo, Ngaglik diresmikan Dirjen Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Thamrin Kasman,  Rabu 4 Maret 2015.  Peresmian ditandai dengan penandatangan prasasti dan pemotongan tumpeng juga sekaligus menandatangani prasasti Shelter SDN Negeri Sruwohrejo, Kec. Butuh, Purworejo, dilanjutkan dengan  peninjauan ruang sekolah shelter yang berlantai 2.  Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Dinas Dikpora Arif Haryono , SH mewakili Bupati Sleman, Muspika kecamatan Ngaglik, Perangkat Desa Sukoharjo  Dan Tokoh Masyarakat.
Dr. Thamrin Kasman dalam sambutan peresmian menyampaikan bahwa  tujuan pembangunan sekolah tersebut untuk mendukung program peningkatan akses dan pemerataan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, juga untuk mendukung pemenuhan kebutuhan  prasarana pendidikan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar, serta mendukung penyediaan tempat pengungsian bagi masyarakat apabila terjadi bencana alam.
Lebih lanjut disampaikan bahwa fungsi sekolah shelter tersebut terbagi menjadi dua yaitu saat terjadi bencana alam dan kerusuhan dapat dimanfaatkan sebagai tempat penampungan pengungsi, sebagai pusat kegiatan penerimaan bantuan, juga dapat digunakaan sebagai tempat kegiatan pembinaan trauma konseling bagi pengungsi, khususnya peserta didik yang mengalami trauma fisik. Disamping itu saat tidak terjadi  bencana dan kerusuhan dapat digunakan sebagai ruang kelas, ruang praktek sesuai kebutuhan, ruang pembinaan dan konseling, serta ruang serbaguna, bapak ditjen berpesan juga agar pemeliharaan gedung selther senantiasa berkesinabungan, agar dapat membuat nyaman para siswa / murid yang belajar.
Sekolah Dasar shelter Selomulyo itu dibangun seluas 423 m² berupa 4 ruang kelas bertingkat ( 2 lantai) dengan nilai kontrak 1,4 milyar, diatas tanah kas desa Sukoharjo, Kec. Ngaglik
Sementara itu Bupati Sleman dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dikpora Arif Haryono, SH antara lain menyampaikan bahwa bantuan sosial pembangunan sekolah shleter SDN Selomulyo yang diberikan, tentunya sangat memudahkan dan membantu  masyarakat, terutama anak-anak diwilayah bencana  untuk  memperoleh sarana dan prasarana  belajar dan bersekolah yang layak, sehingga bisa meraih prestasi dan pendidikan  yang lebih baik. Dengan bantuan tersebut diharapkan mampu  memberikan peningkatan minat dan semangat belajar anak-anak SD Selomulyo sehingga upaya membangun masyarakat Sleman menuju masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing dapat segera terwujud.
Berkaitan dengan hal tesebut, diharapkan SDN Selomulyo ini menjadi SD yang siaga bencana. Sekolah yang mampu membantu masyarakat selain mengatasi dirinya sendiri yakni guru dan siswa ketika terjadi bencana erupsi Merapi. Pada saat ini di Sleman terdapat 6 sekolah siaga bencana yaitu SMK Nasional Berbah, SMK Muhammadiyah Cangkringan, SMP N 1 Cangkringan, SMK N 1 Cangkringan, SD N Umbulharjo 2 dan SD N Kepuharjo, Cangkringan. .
5
Mar

Stok Beras di Sleman Masih Aman

Tingginya harga beras dipasaran saat ini bukan karena produksi padi yang kurang dan akibat gagal panen namun kemungkinan masalah ada pada distribusi dan manajemen perdagangan di pasaran. Selain itu juga selama in beras raskin juga belum terdistribusi sehingga kebutuhan beras meningkat di masyarakat mengakibatkan kenaikan harga beras. Hal itu disampaikan Ir. Widi Sutikno, MSI. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sleman pada acara panen perdana padi di Karongan Jogotirto Berbah. Dikemukakan untuk wilayah Berbah padi yang siap di panen mencapai 400 Ha dan untuk total se Kabupaten Sleman mulai pertengahan Maret nanti siap dipanen 4.700 Ha.

Panen perdana ini dilakukan oleh Bupati Sleman bersama Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Kementerian Pertanian RI  Ir. Sri Sulihanti, MSI selaku Penanggungjawab Program Padi Jagung Kedelai Sleman dan Kulon Progo, Kepala Dinas Pertanian Sleman, Kepala BPPT DIY DR. Sudarmaji, Camat Berbah Serta kades Jogotirto.

Hasil ubinan untuk panen raya kelompok tani Tekat Makmur Rejosari dari 4 sampel mencapai 9,92 ton/ha GKP. Sementara untuk kelompok lain yakni Sido Rukun Klampengan 9,47 ton/ha GKP, Klomtan Rukun Krasaan 5 sampel  9,28 ton/ha GKP, Klomtan Ngesti Tunggal II Bercak 3 sampel 9,52 ton/ha GKP dan Klomtan Sedyo Rahayu Kranggan II 4 sampel 10,02 ton/ha GKP sehingga diperoleh rata-rata 9,57 ton / ha GKP.

Sebelum melakukan panen raya Bupati Sleman bersama rombongan meninjau budidaya ayam KUB “Sawung Maju”. Ayam KUB merupakan Ayam Kampung Unggul hasil penelitian Ternak Balitbang Pertanian RI yang dialakukan sejak tahun 1997 dan telah dilisensikan kepada PT AKI (Ayam Kampung Indonesia) untuk dikembangkan menghasilkan produk-produk parent stock ayam kampung petelur unggul, final stock pedaging dan petelur mulai tahun 2011. Keunggulan ayam KUB ini menurut Sudarmaji yakni produksi telur mencapai 180 butir pertahun dan siklusnya cepat dan tidak mau mengerami, dan pertumbuhan ayamnya cepat selama 70 hari dengan pakan 90 gram per hari akan mencapai bobot 1 kg. Kelompok budidaya yang mengembangkan ayam KUB ini yakni Sawung Maju Karongan Jogotirto Berbah yang beranggotakan 25 orang dengan 15 pembudidaya indukan dan 10 usaha pembesaran. Untuk volume penjualan ayam (bibit umur 0 – 1 minggu) seminggu dapat terjual 300 bibit ayam dengan harga Rp 6.500 per DOC. Menurut Camat Berbah  Dra. Tina Hastani, MM, menyampaikan kelompok Sawung Maju telah memberikan kontribusi dengan memberikan 5 butir telur per anggota per bulan untuk kegiatan Posyandu sehingga hal ini menunjukkan bukti partisipasi masyarakat dalam meningkatkan program pemenuhan gizi wilayahnya.

Bupati Sleman dalam kesempatan ini juga meresmikan Lumbung Pangan KWT Sido Rukun Klampengan Jlatren Jogotirto Berbah dan menyerahkan bantuan benih padi dan papan nama dalam rangka Program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPTT) di wilayah Berbah seluas 500 ha dengan bantuan keseluruhan mencapai Rp 725 juta. Kegiatan yang telah dilakukan oleh Lumbung Pangan KWT Sido Rukun yang beranggotakan 38 orang ini meliputi arisan gabah kering dan pinjaman untuk anggota yang mempunyai hajat yang memerlukan kebutuhan beras yang cukup banyak dan dikembalikan saat musim panen.

Sementara itu Bupati Sleman dalam sambutannya menyampaikan kecamatan Berbah mempunyai banyak prestasi khususnya dalam bidang perikanan, peternakan, pertanian padi dan perkebunan yakni Jambu Dalhari.Prestasi ini dapat dicapai dengan semangat yang tinggi dan kerja keras dari para petani dengan kelompoknya untuk selalu menerapkan inovasi teknologi baik ternak melalui ayam KUB maupun pertanian dengan penerapan teknologi pertanian terpadu hasil penelitian para ahli khususnya BPPT DIY. Dengan penerapan teknologi yang tepat terbukti dapat berhasil meraih panen yang cukup bagus untuk padi. Dan untuk ayam KUB semakin banyak diminati masyarkat dan kebutuhan akan semakin meningkat mengingat Sleman merupakan pusat kuliner DIY yang membutuhkan suply bahan pokok seperti ayam KUB yang dikembangkan di Berbah ini.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.