Arsip Kategori: Berita

8
Apr

Kafilah STQ Sleman Pamitan Untuk Bertanding Di Bantul

Jumat, 5 April 2013 Bupati Sleman melepas kontingen seleksi tilawatul Quran dari Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas. Hadir dalam acara ini, Asisten Sekda Bidang Pembangunan, Suyamsih, MPd, Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Sleman, Arif Haryono,SH, dan Kepala Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Sleman, Drs. H.M. Lutfi Hamid, M.Ag. 
Pada kesempatan ini, Kabupaten Sleman mengirimkan sejumlah 16 Kafilah yang akan bertanding di Kabupaten Bantul.

Bupati Sleman berharap kontingen ini dapat membawa nama baik Kabupaten Sleman dengan menorehkan prestasi dalam seleksi tilawatil Quran tingkat Provinsi DIY, yang akan diselenggarakan mulai 5 April hingga 6 April 2013 di Kabupaten Bantul. Disamping itu, Bupati menyampaikan agar para seleksi ini dapat menjadi wadah dakwah yang baik bagi masyarakat. 
Disampaikan oleh Kepala LPTQ Sleman Drs. H.M. Lutfi Hamid, M.Ag, kegiatan STQ ini merupakan silaturahmi dengan basis kegiatan keagamaan di lingkup DIY. Ditambahkan pula tentang sejumlah kegiatan yang telah dilakukan LPTQ Sleman sepanjang tahun 2013 ini diantaranya sosialisasi rencana pembinaan kafilah MTQ tingkat Sleman, kunjungan pembinaan dan sosialisasi di LPTQ se-Kabupaten Sleman, penyelenggaraan orientasi dewan hakim, petugas panitera dan pewara. Kegiatan-kegiatan tersebut di atas dimaksudkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan mensukseskan kegiatan-kegiatan LPTQ Kecamatan hingga tingkat Kabupaten Sleman***

4
Apr

PDAM Sleman Berikan Harga Promosi Dalam Rangka Hari Jadi Sleman

PDAM Kabupaten Sleman melayani khusus perpipaan. Saat ini PDAM masih mencapai layanan 60% dari total penduduk Sleman. Pencapaian inipun sangat sulit karena masyarakat sudah banyak menggunakan sumur gali yang secara kualitas masih lebih baik daripada 4 kabupaten lain. Kedepan PDAM Sleman akan menambah sambungan sebanyak 200 pelanggan atau kepada 12 ribu jiwa. Demikian disampaikan oleh Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwata, Kamis 4 April 2013.

Kendala yang dihadapi oleh PDAM pasca erupsi Merapi adalah sumber air yang ada di lereng Merapi terkena lahar dingin dan jaringan mengalami kerusakan total. PDAM baru dapat   memfungsikan sumber air dari Umbul Wadon mulai bulan Oktober 2012. Berfungsinya kembali  sumber air tersebut setelah dibantu oleh BNPB dengan dana dari APBN. Bantuan berupa pembangunan pipa yang berada di Pakem, yaitu di dusun panggeran dengan kapasitas 60 liter per detik. Jika dikomparasikan dengan kebutuhan masyarakat yaitu sekitar 6000 sambungan.
PDAM juga melaksanakan pengembangan sambungan dengan kemudahan-kemudahan  melalui event-event tertentu. Pada 2013 nanti akan ada sambungan baru yang murah yaitu pada event Peringatan Hari Jadi Kabupaten. Harga pendaftaran sambungan baru yaitu Rp 300.000 per sambungan, sedangkan harga reguler 800 ribu per sambungan. Hal ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat agar dapat menikmati layanan air bersih dan memperluas cakupan layanan PDAM.

Sumber air yang digunakan PDAM baru mencapai 280 liter per detik dengan tingkat kehilangan air 32%. Tingkat kehilangan tersebut menurun 5% dari tahun lalu yang mencapai 37%. Upaya penurunan dilakukan dengan penggantian watermeter yang rusak serta penertiban watermeter. Tahun 2013 PDAM mengusulkan pada pusat untuk dibantu pengembangan di wilayah  barat karena di kecamatan Tempel belum ada layanan air bersih dengan perpipaan. Kapasitas 20 liter per detik akan memberi layanan pada 2000 pelanggan.

Pada tahun 2012, hasil audit akuntan publik menunjukkan bahwa PDAM Sleman telah mampu meraih keuntungan sebesar Rp 565.000.000. keuntungan ini merupakan yang pertama kalinya setelah beberapa tahun PDAM tidak memperoleh keuntungan. Keuntungan ini merupakan hasil kerjasama masyarakat, PDAM dan pemerintah.Pada tahun 2013 PDAM juga merencanakan menambah jaringan di wilayah Sleman tengah yaitu Kecamatan Ngaglik. Hal ini dikarenakan di Sleman tengah perkembangannya cukup pesat diantaranya adanya rusunawa dll. Sedangkan di wilayah Sleman barat belum semuanya terlayani air bersih. Sleman tengah terdapat 500 sambungan yang tidak dapat dicapai dalam satu tahun karena mash dalam tahap pembangunan.

Terkait dengan masalah kualitas kualitas air, secara fisik kualitas air di Sleman cukup baik tapi tentu saja juga mengikuti regulasi Permenkes yang berlaku yaitu melengkapi instalasi pipa. Yang menjadi kewenangan pusat adalah instalasi produksi, Pemkab memiliki kewenangan instalasi distribusi dan instalasi sambungan rumah adalah kewenangan PDAM.

2
Apr

Sleman Raih MDG’s Award

Upaya warga masyarakat di bantaran Kali Gadjah Wong dalam menjaga kebersihan lingkungan diapresiasi sebagai salah satu upaya penyehatan lingkungan di kawasan padat penduduk. Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDG’s (Millenium Development Goals) menyatakan bahwa Kabupaten Sleman  melalui upayanya dalam penyehatan lingkungan di kawasan padat penduduk daerah aliran Sungai Gadjah Wong ditetapkan menjadi Pemenang Indonesia MDG’s Award 2012 kategori Layanan Air Bersih dan Sanitasi untuk Pemerintah Kabupaten/Kota. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA di Bali pada 26 Maret 2013 yang lalu.

DAS Gajahwong pada penggal ruas Padukuhan Santren sampai dengan Padukuhan Papringan berada di wilayah Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, melewati 6 padukuhan dengan jumlah penduduk 3.560 jiwa dengan jumlah KK miskin 431 KK. Keenam Padukuhan tersebut yaitu Padukuhan Santren, Padukuhan Mrican, Padukuhan Ambarukmo, Padukuhan Nologaten, Padukuhan Papringan, dan Padukuhan Gowok. Pertumbuhan Permukiman di daerah bantaran DAS tersebut merupakan hal yang tidak dapat dihindari dan tidak direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman tetapi tumbuh secara alamiah. Permukiman padat secara fisik dapat terlihat dari kondisi kerapatan/ kepadatan bangunan/rumah/ hunian dan tatanan bangunannya.

Drs. Krido Suprayitno, SE, M.Si yang mewakili Bupati Sleman dalam penerimaan penghargaan ini menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari upaya masyarakat Sleman khususnya di daerah Mrican dan Papringan dalam mengelola sanitasi di bantaran Sungai Gadjah Wong sehingga bebas dari buang air besar sembarangan. Selain itu masyarakat di bantaran Sungai Gadjah Wong juga mengembangkan IPAL komunal di kawasan padat penduduk untuk menjaga kualitas air di daerah ini. Dengan IPAL komunal, masyarakat tidak perlu membuat septictank untuk setiap rumah sehingga jarak antara IPAL komunal dengan sumur tanah tetap terjaga dan tidak menganggu kualitas air bersih. IPAL komunal dikembangkan oleh berbagai komunitas seperti komunitas Grebeg Kali Gajahwong, Kelompok Masyarakat IPAL komunal, Paguyuban Pengelola Sampah Mandiri, PKK dan Karang Taruna padukuhan setempat yang terintegrasi dalam Sahabat Komunitas Komunitas Grebeg Kali Gajahwong.

Upaya Sahabat Komunitas Komunitas Grebeg Kali Gajahwong ini didukung oleh Pemkab Sleman. Sinergi masyarakat dan pemerintah melahirkan program seperti Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), Program Kali Bersih (Prokasih) dan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diluncurkan sebagai stimulant untuk mengakselerasi pengejawatahan cita-cita masyarakat bantaran sungai Gadjah Wong menuju masyarakat yang sejahtera. Program ini juga didukung pemerintah pusat melalui Kemenpera dan Kemen PU ikut mendorong melalui Pembangunan Jembatan, Draenase dan SPAH, Pembangunan Gedung pusat pendidikan masyarakat, Perbaikan jalan lingkungan dan Pembuatan IPAL komunal Program USRI (Urban Sanitation and Rural Infrastructure). Sedangkan Pemerintah Daerah Provinsi Yogyakarta melakukan penataan lingkungan melalui program Peningkatan Jalan Inspeksi DAS Sungai Gajahwong.

Keberhasilan program ini juga didukung sejumlah pihak swata yang berperan yaitu PT.Martina Berto Tbk, PT. Sari Ayu Indonesia, dan Prodia. Sedangkan penyandang dana Donor yang berperan adalah Global Compac, Rotary Club Indonesia, dan Yayasan Kehati. Perhatian berbagai pihak tersebut tidak dapat terlepas dari Swadaya/Community Development (CD) masyarakat berupa Pemberdayaan Karang Taruna Peduli Lingkungan dan Iuran arisan pembangunan lingkungan. Sedangkan LSM seperti LSM Komunitas Kali Gajahwong, LSM Peduli Embung Tambakboyo, dan LSM peduli kali Plang, LSM Pepeling Sendangtirto serta Komunitas Perempuan Sekolah REBO Kecamatan Depok, melakukan pendampingan terhadap masyarakat. Pendampingan masyarakat tersebut juga melibatkan berbagai universitas seperti Perguruan tinggi AMTA, Universitas ‘Veteran’ Yogyakarta, UGM dan INTAN (Istitut Pertanian) Yogyakarta.

Konsep dari Sahabat Komunitas Grebeg Kali Gajah Wong dalam penataan DAS tersebut berupa model yang terintegrasi penataan kawasan padat penduduk dan kumuh. Untuk meminimalisir dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat setempat diperlukan upaya yang sinergis dalam pengelolaan sanitasi, dan pengelolaan lingkungan, serta usaha ekonomi micro alternatif berupa lumbung sampah dan budidaya TOKA (Tanaman Obat Kosmetik Aromaterapi) yang dapat memberikan tambahan nilai ekonomi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat secara mandiri dan berkesinambungan. Target paguyuban adalah: wilayah DAS bantaran Sungai Gajahwong terbebas dari lingkungan kawasan kumuh pada tahun 2015 dan dapat meningkatkatkan penyehatan masyarakat di wilayah perkotaan padat penduduk. Dalam kesempatan lain Bupati Sleman menyampaikan harapannya agar upaya di bantaran DAS Gajah Wong tersebut dapat berkesinambungan dan lebih berkembang.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.