Arsip Kategori: Berita

23
Jan

Sebanyak 785 Guru Lulus Sertifikasi

Bertempat di Gedung Serbaguna Sleman Rabu, 23 Januari 2013 telah dilaksanakan penyerahan sertifikat Pendidik Lulus tahun 2012 oleh Bupati Drs. H Sri Purnomo, MSI. Pada tahun 2012 Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kab. Sleman telah memfasilitasi pelaksanaan sertifikasi melalui pola pemberian Sertifikat Pendidik secara langsung (PSPL), Portofolio, dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Rayon 111 Universitas Negeri Yogyakarta sebanyak 862 guru. Setelah dilaksanakan Penilaian Portofolio  dan proses PLPG yang dinyatakan lulus pada tanggal 28 Desember 2012 sertifikat pendidik telah diserahkan oleh UNY ke Dinas Dikpora Kab. Sleman. Dengan demikian sertifikat pendidik bagi Peserta Sertifikasi Guru Kuota Tahun 2012 yang telah dinyatakan lulus oleh Panitia Sertifikasi Guru Rayon 11 UNY telah siap diterimakan. Dari 785 orang guru yang lulus sertifikasi, sertifikat pendidik yang telah terbit 780 sertifikat, sedangkan 5 orang guru peserta PLPG melalui UPI Bandung sampai saat ini belum terbit. Demikian laporan Kepala Dinas Dikpora Kab. Sleman Arif Haryono, SH.
Bupati Drs. H Sri Purnomo, MSI, mengatakan bahwa menerima sertifikat berarti guru juga memperoleh hak untuk mendapatkan peningkatan kesejahteraannya yang jumlahnya tidak sedikit. Besaran peningkatan penghasilan ini sudah diatur oleh Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 dan sudah menjadi ketetapan. Dengan peningkatan penghasilan ini sudah barang tentu kesejahteraan para guru akan meningkat. Namun perlu diingat, bahwa diberikannya tunjangan sertifikasi pendidik adalah untuk meningkatkan kinerja, kapasitas, dan profesionalias guru. Ini menjadi kewajiban saudara-saudara yang harus saudara penuhi. Guru pemegang sertifikat harus profesional dan memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Sesuai dengan tugas pemerintah untuk mencerdas­kan kehidupan bangsanya, maka menjadi tugas bersama untuk memberikan perhatian bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Sleman. Pemerintah berfung­si untuk memberikan fasilitasi dan regu­la­si, sekolah dan guru adalah ujung tombak yang secara langsung bertang­gung jawab terhadap pening­katan mutu pendidikan bagi masyarakat.
Dengan menerima sertifikat  ini, diharapkan agar para guru dapat termotivasi untuk meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara. Selain itu guru juga dituntut untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui jalur pendidikan serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelanjaran dan model pembelajaran
Diharapkan pula agar para guru penerima sertifikat ini mampu menjadi motor penggerak di sekolahnya untuk membentuk lingkungan pendidikan yang sehat, dan kompetitif bukan saja bagi para guru tetapi juga siswa didiknya.
Profesi guru adalah profesi yang luhur karena memiliki tujuan utama memanusiakan manusia, menjadi manusia lebih beradab, bernurani dan bermoral tinggi. Oleh karena itu para guru harus memiliki etos pengabdian yang tinggi dan selalu berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin meningkatkan kualitas dirinya. Saudara harus mampu menjadi teladan bagi rekan-rekan guru lainnya, bagi anak didik juga masyarakat di lingkungan tempat tinggal saudara.   
Proses sertifikasi guru, bukanlah sekedar upaya setiap guru untuk memenuhi seluruh persyaratan sertifikasi. Namun proses sertifikasi harus dimaknai sebagai proses menuju perbaikan, menuju peningkatan kualitas diri, dan profesionalitas para pendidik. Yang menjadi tujuan utama dari sertifikasi ini adalah peningkatan mutu pendidikan, yang terlihat dari kualitas para peserta didik. Dengan demikian, semakin banyak para guru di Sleman ini yang telah memperoleh sertifikat pendidik, berarti kualitas para peserta didik harus lebih baik dari tahun lalu, yang terlihat pada hasil nilai akademik, perilaku, maupun karakter siswa.
Tantangan yang lain, yang juga harus dijawab oleh para guru adalah adanya tuntutan dari para orang tua siswa yang menuntut, kepada para guru yang telah bersertifikat, harus mampu meningkatkan kualitas peserta didik. Guru yang bersertifikat harus bisa menghasilkan out put yang lebih baik, jika dibandigkan dengan guru yang belum bersertifikat. Berbagai tantangan ini harus dijawab oleh para guru dengan kinerja. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga, juga diminta untuk selalu memantau dan mengendalikan kualitas para tenaga pendidik, terutama guru yang telah bersertifikat. 

23
Jan

Satgas SPIP Karangasem Studi Banding Ke Sleman

Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Kabupaten Sleman menjadi bahan study banding pada kunjungan kerja Satgas SPIP dari Kabupaten Karangasem, Bali pada Selasa, 22 Januari 2013 bertempat di Ruang Rapat Setda B Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman. Hadir dalam acara tersebut Bupati Sleman, Sri Purnomo, Asisten Setda Bidang Pembangunan, Dra. Suyamsih, MPd dan sejumlah pejabat terkait.
Wakil Bupati Karangasem, I Made Sukerana, SH yang turut hadir dalam acara ini menyampaikan bahwa Kabupaten Karangasem tertarik untuk mempelajari mengenai implementasi SPIP di Kabupaten Sleman. Sleman dianggap berhasil dalam menerapkan SPIP di dalam sistem pemerintahannya. Hal ini dapat dilihat dari komitmen yang dibuat melalui Perbup No. 35 Tahun 2010 tentang pelaksanaan  Sistem Pengendalian Intern Daerah yang merupakan tindak lanjut dari PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP.
Bupati Sleman menyampaikan bahwa SPIP merupakan bagian dari upaya sistem pembenahan sistem penyelenggaraan pemerintahan untuk mendukung terselenggaranya good governance baik dari perencanaa, pelaksanaan maupun pada tahap evaluasi. Pemkab Sleman telah memulai sistem ini dengan menyelenggarakan diklat maupun sosialisasi.
Sejak tahun 2010 Pemkab Sleman telah mendeklarasikan penerapan SPIP, dan mulai tahun 2011 mulai melakukan pembentukan satgas SPIP dan penyelenggaraan Diklat SPIP. Sejak awal tahun 2012 yang lalu SPIP secara intensif dibangun, diterapkan, dievaluasi dan terus dikembangkan mulai dari tahap knowing, mapping, norming, forming. Saat ini Pemkab Sleman telah selesai melakukan forming. Hasil pelaksanaan tahapan norming dan forming telah dipaparkan Perwakilan BPKP Provinsi pada tanggal 5 Desember 2012 yang lalu.
Di level SKPD, Pemkab Sleman berupaya membentuk satgas di 48 OPD untuk membuat mapping kegiatan di masing-masing SKPD. Pembuatan mapping SPIP ini kemudian dipaparkan untuk dievaluasi. Dengan melakukan SPIP, Pemkab Sleman berharap dapat mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan dan memperbaiki kinerja SKPD.

22
Jan

SMK Nasional Berbah Dicanangkan Sebagai Sekolah Siaga Bencana

Hari Sabtu, 19 Januari 2013 telah dilaksanakan Pencanangan Sekolah Siaga bencana (SSB) SMK Nasional Berbah. Acara dihadiri Bupati Sleman Sri Purnomo dan tamu undangan lainnya. Menurut Kepala Sekolah SMK nasional Berbah, sekolah ini dibawah Yayasan Pendidikan Teknologi Nasional Yogyakarta yang berkantor di Babarsasri Kampus STTNas Yogyakarta, dan telah melaksanakan Sistem manajemen Mutu ISO 9001 : 20008 mulai tahun 2010.  SMK nasional Berbah mempunyai 4 Kompentensi Keahlian yang terakreditasi A, meliputi : Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi tenaga Listrik, Kompetensi Keahlian Teknik Mesin, Kompetensi Keahlian Teknik Otomotif kendaraan Ringan, dan Komptensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.
Selain itu SMK Nasional berbah juga mengadakan Workshop Pengembangan Kurikulum yang mengacu pada Mitigasi Bencana mencakup tentang : Visi, Misi dan Tujuan Sekolah, Standar Kopetensi lulusan, Silabus dan indikatornya, juga Rencana proses pembelajaran )RPP) dan materi pembelajaran. Serta mempunyai sarana pendukung berupa fisik untuk menjadikan SMK Nasional berbah menjadi Sekolah Siaga Bencana antara lain : Adanya denah/peta jalur evakuasi dan papan-papan petunjuk evakuasi, tempat titik kumpul, Ada sirine/Kentongan sebagai alat member petunjuk ada Gempa Bumi, Peralatan evakuasi dan PPGD seperti Dragbar, tenda, spalk, mitela, P3K, serta Peralatan Komunikasi (HT), Radio baterre, senter, alat pemadam kebakaran.Demikian laporan yang disampaikan Kepala Sekolah SMK Nasional Berbah Dwi Ahmadi, Spd.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Drs. H Sri Purnomo, MSI mengatakan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan factor alam maupun non alam.
Pada tahun 2010 yang lalu, semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian diikuti oleh banjir lahar dingin yang terus mengancam sampai saat ini. Beberapa saat yang lalu, sebagian masyarakat Sleman juga terkena angin puting beliung yang juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk itu, Saya berharap agar semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulani bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Menghadapi fenomena bencana yang makin luas dan kompleks, sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus menyelenggarakan, bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, Tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangn bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.
Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan lokal wisdom masyarakat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini. Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.
Bupati juga memberikan apresiasi atas upaya SMK Nasional Berbah yang telah menempatkan mitigasi bencana menjadi salah satu bagian dari materi ajar dan kurikulum pembelajaran sekolah. Diharapkan sekolah-sekolah yang lain, dari jenjang terbawah di Kabupaten Sleman juga harus mengikuti langkah SMK Nasional Berbah ini. Melalui program sekolah siaga Bencana, guru-guru dan siswa nantinya menjadi agen maupun pelaku dalam penanggulangan bencana. Tidak hanya di sekolah, namun juga aktif dan pro aktif menggerakkan masyarakat di lingkungannya.
***

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.