Arsip Kategori: Berita

1
Feb

13 KK Miskin Di Margoagung Kembalikan Kartu Miskin

Kemiskinan adalah musuh bersama negeri ini yang harus dihadapi.  Setiap daerah memiliki program penanggulangan kemiskinan masing-masing. Kebijakan untuk mengatasi permasalahan kemiskinan adalah penjaminan masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, yaitu sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Pada tanggal 30 Januari 2013, bertempat di Balai Desa Margoagung Kecamatan Seyegan dalam acara rapat koordinasi monitoring evaluasi dan rencana tindak lanjut Pengentasan Kemiskinan  Desa Margoagung. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman, Hj.Yuni Satia Rahayu,.S.S,. M.Hum, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Drs. Julisetiono Dwi Wasito, SmHk, MM, muspika Kecamatan Seyegan, dinas dan instansi terkait dan juga warga masyarakat Seyegan. Dalam laporanya Kepala Dinas Nakersos Drs. Julisetiono Dwi Wasito, SmHk, MM dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa sebanyak 13 orang pemegang kartu miskin di Desa Margo Agung secara sukarela mengembalikan Kartu Miskin tersebut kepada
Pemerintah Kabupaten Sleman, karena telah meningkat statusnya dari warga miskin ke warga rentan miskin.  Sebelumnya pada bulan Mei tahun 2012 sebanyak 27 orang warga Desa Margoagung juga secara sukarela telah menyerahkan kartu miskin kepada Pemerintah Kabupaten Sleman.  Warga masyarakat yang pada tahun 2012 tersebut telah meningkat statusnya telah memperoleh penguatan modal sekitar 52 juta. Saat ini mereka tetap terus didampingi dan dimonitor perkembangannya. Berdasarkan monitoring dan evaluasi 
mereka  sudah memiliki unit-unit usaha  yang dijalankan sangat bervariasi, ada yang memiliki usaha pembuatan tahu, bengkel sepeda, pembuatan peralatan pertanian dan lain-lain tetapi tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai petani. Oleh karena itu Julisetiono juga berharap agar 13 KK yang saat ini melepaskan status miskinnya juga segera membuat proposal untuk diajukan ke Pemerintah Kabupaten Sleman agar bisa mendapatkan juga bantuan penguatan permodalan, Julisetinono juga berharap warga yang telah meningkat statusnya agar bisa menularkan kepada warga miskin lain agar segera meningkat statusnya.

Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dalam arahannya  antara lain meminta agar  aparat dan   warga masyarakat agar terus bekerja keras, bekerja dengan hati untuk melakukan penanggulangan kemiskinan.  Beliau juga berharap agar dinas instansi terkait terus melakukan monitor kepada warga masyarakat yang telah naik statusnya ini agar kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi. Yuni mengingatkan agar pendidikan anak-anak dari warga yang sudah naik statusnya ini dipantau, jangan sampai setelah naik statusnya anak-anak mereka terhambat pendidikannya.  Masyarakat yang sudah naik statusnya juga harus segera mengurus jamkesda karena sudah tidak dijamin oleh jamkesmas sehingga tetap terjamin pelayanan kesehatannya. Pengalaman dari warga yang sudah naik statusnya ini agar dapat ditularkan kepada warga yang lain.  Wakil Bupati Sleman juga berterima kasih kepada warga masyarakat yang baru saja melepaskan statusnya tersebut, dan ia  juga mengingatkan agar dinas instansi terkait terus memantau warga tersebut, mendata tiap-tiap KK tersebut, dan juga melaporkan perkembangannya setiap 3 bulan sekali kepada Wakil Bupati Sleman.  Ia berharap agar TPK di masing-masing dusun, desa dan kecamatan selalu berkoordinasi agar data-data yang dimiliki selalu up to date.  Ia juga mengingatkan bahwa penanggulangan kemiskinan ini yang dinilai adalah hasilnya bukan dari data yang ada di atas kertas.

30
Jan

15 Lumbung Pangan Di Sendangagung, Minggir Dicanangkan

Sebanyak 15 lumbung pangan di Desa Sendangagung Minggir dicanangkan oleh Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo di Balai Desa setempat  Rabu 30 Januari 2013. Dalam kesempatan tersebut juga diserahkan bantuan masing-masing senilai 1 juta rupiah kepada 15 Lumbung Pangan di Desa Sendangagung, bantuan tersebut  merupakan dana ADD desa Sendangagung. Dana senilai 1 juta rupiah tersebut berupa papan nama masing-masing lumbung pangan, peralatan kantor, dll. Kelimabelas lumbung pangan desa mandiri pangan tersebut Lumbung Pangan Gemah Ripah dusun Kisik 1, Sedya Simpen Minggir 2 , Rukun Mandiri Minggir 3 ,Karya Manunggal dusun Pojok 4, Ngudi Rejeki dusun Pojok 5, Iso Makmur dusun Watugajah 6, Agung Sri Rahayu dusun Bontitan 7, Sejahtera dusun  Brajan 8, Lumpang Kayu dusun  Kliran 9, Migunani dusun  Bekelan 10, Boga Pitoyo dusun Tengahan 11,  Tani Maandiri dusun Tengahan 12, Lestari Mulyo dusun Dukuhan 13, Ngudi Makmur dusun Nanggulan 14, Pilar Boga Abadi Sejahtera dusun
Jomboran 15. Dalaam kesempaatan tersebut bupati sleman mengatakan bahwa dengan dicanangkannya Lumbung Pangan tersebut  merupakan salah satu kemajuan yang patut disyukuri mengingat selama ini walaupun Kabupaten Sleman dikaruniai kondisi alam yang subur, tetapi Sumber Daya Alam dan lahan budidaya pertanian semakin terbatas. Oleh karena itu, upaya untuk menyediakan lumbung pangan di setiap desa merupakan salah satu upaya strategis  dalam mendukung pemantapan ketahanan dan kemandirian pangan di Sleman.
Lebih lanjut disampaikan bupati sleman bahwa selain itu lumbung pangan merupakan upaya untuk melakukan revitalisasi  kearifan lokal budaya masyarakat berupa local wisdom. Lumbung pangan adalah kekayaan budaya  yang bukan hanya merupakan tempat penyimpanan pangan namun juga merupakan wujud kegotongroyongan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar. Untuk itu diharapkan keberadaan lumbung pangan di suatu desa tidak hanya secara fisik namun juga memiliki sistem yang mengatur penyimpanan, distribusi pangan dan lain sebagainya. Terlebih lagi Kecamatan Minggir merupakan daerah penghasil padi sehingga keberadaan lumbung pangan ini menguatkan identitas penghasil padi tersebut. Keberadaan lumbung pangan desa diharapkan mampu membantu kebutuhan masyarakat jika terjadi surplus pangan maupun paceklik pangan di suatu desa.   Salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat Sleman yang lebih sejahtera lahir dan batin, berdaya saing dan berkeadilan gender pada tahun
2015, dilaksanakan dengan mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Ketahanan pangan, merupakan prasyarat bagi terpenuhinya kebutuhan asupan gizi masyarakat, serta menjadi modal bagi masyarakat untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
Pengembangan Desa mandiri pangan yang ada di Kabupaten Sleman sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 sudah terbentuk desa mandiri pangan sebanyak 5 desa yaitu desa Sumberrejo Kecamatan Tempel, Desa Wukirharjo, Kecamatan Prambanan, Desa Sendangagung Kecamatan Minggir, Desa Margomulyo Kecamatan Seyegan dan desa Mororejo Kecamatan Tempel. Pada tahun 2012 terdapat potensi daerah rawan pangan sejumlah 12 desa yaitu 5 desa di Cangkringan, 2 desa di Depok, 2 desa di Mlati dan masing- masing 1 desa di Ngaglik, Tempel dan Sleman. Dalam Penanganan daerah  rawan Pangan di Kabupaten Sleman Tahun Anggaran 2012 dari 12 desa yang masuk potensi rawan pangan tersebut 1 desa mendapatkan bantuan Sosial yaitu desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan dari dana APBN berupa beras yang telah dibagikan kepada  8 Dusun
Sedangkan kepala desa Sendangagung Drs. Hajid Badawi melaporkan bahwa ke 15 Lumbung Pangan tersebut sebagai upaya untuk pertahanan pangan bagi masyarakat, disampaikan pula  bahwa keberadaan lumbung pangan tersebut sebagai upaya terwujutnya desa mandiri pangan dan pendapatan petani Sendangagung. Ke 15 Lumbung Pangan  tersebut dibiayai dari Alokasi Dana desa . Untuk pembangunan non fisik  di Sendangagung dititik beratkan  pada pembangunan ekonomi yang didasari pada 6 pilar, yaitu Pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan dan kerajinan.  Yang jelas tambah Hajid Badawi bahwa sebelum masa jabatannya habis yang hanya tinggal 3 tahun tersebut ingin memberikan dan memberi tinggalaan pada masyarakat mandiri pangan di Sendangagung dapat terwujut. Hadir dalaam kesempatan tersebut antara lain perwakilan Dewan Ketahanan Pangan Prop. DIY, Kepala Dinas Pertanian, Perikanaan dan Kehutanan kabupaten sleman Ir. S. Riyadi Martoyo, MM, Camat Minggir  Budi
Sutamba, Kapolsek dan Danramil Minggir.

30
Jan

Dari Forum Kesiapsiagaan Cuaca Ekstrim : Waspadai Puting Beliung Dan Banjir Lahar

Cuaca ekstrim yang sering terjadi akhir-akhir ini perlu diwaspadai sejak dini karena sering terjadi bencana akibat cuaca ekstrim. Dengan kewaspadaan sejak dini, maka dampak bencana dapat lebih diminimalisir. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo  saat membuka Forum kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrim di lantai III Pemkab Sleman Selasa (29-1-2013). Lebih lanjut disampaikan bahwa  dalam penanganan  bencana harus terbangun sistem koordinasi dan   sinergi yang baik, masing-masing pihak harus dapat berperan maksimal sesuai dengan kapasitasnya. Juga harus terbangun jaringan informasi yang solid, valid, serta didasarkan atas akurasi data. Yang perlu diperhatikan bahwa  untuk menghindari kesimpang siuran informasi maka  informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus mengacu pada informasi dari BMKG dan BPPTK, jangan sampai masyarakat justru menjadikan isu atau informasi yang tidak bertanggung jawab sebagai informasi yang tidak bertanggung jawab sebagai informasi yang dipercaya, sehingga seringkali menimbulkan kepanikan yang justru kontraproduktif  pada upaya mitigasi bencana. Oleh karena itu harus dapat menyampaikan informasi yang benar dengan cara efektif kepada masyarakat. Diharapkan pula jaringan informasi yang terbangun sampai dengan tingkat padukuhan bahkan RT, dapat segera menyampaikan informasi yang cepat kepada pemerintah, bila terjadi bencana. Sehingga pemerintah dapat segera memberikan bantuan dan kebutuhan masyarakat yang tertimpa bencana.

Kepala  BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) stasiun Geofisika kelas I Yogyakarta Drs. Bambang Suryo Santoso dalam presentasinya antara lain menyampaikan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi cuaca dan iklim di Indonesia adanya fenomena global, fenomena Regional dan fenomena Lokal. Sedang awal terbentuknya putting beliung sangat dipengaruhi oleh tingkat pemanasan dipermukaan bumi, jika terdapat tempat yang suhunya paling tinggi secara signifikan (mencolok), maka tempat tersebut menjadi pusat tekanan rendah yang menghisap masa udara dari arah sekitarnya. Yang perlu diwaspadai oleh masyarakat tanda-tanda akan terjadinya putting beliung antara lain , satu hari sebelumnya, udara pada malam hari sampai pagi hari udaranya panas/pengap/gerah, sekitar pukul 10.00  pagi terlihat awan cumulonimbus berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi hitam gelap, terasa
ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri. Disamping itu perhatikan pepohonan disekitar tempat kita berdiri, jika ada dahan atau ranting yang bergoyang cepat, maka hujan dan angin kencang akan terjadi. Juga  bila terdengar sambaran petir yang cukup keras, kemungkinan akan terjadi hujan deras disertai petir dan angin kencang, dan biasanya hujan pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba dan deras, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari lingkungan kita, serta jika 1 atau 3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun angin kencang yang mendatar.

Disampaikan pula bahwa untuk mengantisipasi angin putting beliung antara lain dengan memangkas dahan pohon yang tinggi dan terlalu rimbun untuk mengurangi beban berat pohon tersebut, memperkuat bagian-bagian rumah dan mengganti atap yang telah rapuh, memperhatikan cuaca dan tanda-tanda akan terjadinya puting beliung, dan cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, karena peristiwa fenomena tersebut sangat cepat, serta memperkuat papan iklan dan media yang rawan roboh saat terjadi angin puting beliung.

Sementara itu Kepala BPBD Kabupaten Sleman Drs. Urip Bahagia dalam kesempatan tersebut melaporkan bahwa  tujuan forum tersebut sebagai  wahana penyampaian persepsi penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayah Sleman, mengingatkan bahwa koordinasi saat operasional tanggap darurat merupakan hal yang sangat penting dalam penanggulangan bencana. Lebih lanjut disampaikan Urip Bahagia bahwa titik-titik rawan sungai yang perlu diperhatikan masyarakat adalah 300 meter kanan kiri sungai, daerah diluar belokan sungai, daerah yang mengalami penyempitan aliran, daerah yang elevasinya sama dengan sungai dan daerah yang berada di perpindahan elevasi sungai dari dalam ke dangkal. Dan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat untuk merespon peringatan dini antara lain m,enjauh dari lokasi bahaya yang diperkirakan, menjauhi sungai/ tidak melintasi sungai. Menuju ke titik kumpul, mengungsi ke tempat pengungsian, mengikuti petunjuk pengungsian melalui jalur evakuasi yang disepakati. Armada standby di titik kumpul, driver armada evakuasi terlatih, bergerak setelah komandan tanggap darurat peringtah ngungsi dan memprioritaskan kelompok rentan.
Ditambahkan pula oleh Urip bahwa dampak tingginya curah hujan di Sleman yang perlu diwaspadai adalah : potensi banjir lahar di Sungai Gendol-Opak, Boyong, Kuning, Krasak. Banjir dan genangan luapan drainase kota, Longsor di Kecamatan Prambanan dan angina kencang kecepatan 65 KM / jam, dampak diwaspadai terjadinya pohon tumbang dan kerusakan benda yang tertiup angin kencang.

Forum tersebut diikuti oleh 150 peserta antara lain para kapolsek yang masuk daerah rawan bencana, kepala desa yang rawan bencana, camat se Kabupaten Sleman, komunitas , perwakilan Korem 072, Kepala rumah sakit angkatan udara, BPPTK.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.