Arsip Kategori: Berita

29
Nov

Sleman Selenggarakan Seminar Desa Sejahtera

Pemerintah Kabupaten Sleman di Rumah Makan Pandan Resto Monjali hari Rabu, 28 Nopember 2012 menyelenggarakan Seminar Dalam Rangka Launching Indikator Desa Menuju Sejahtera.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah (RPJMD) Kab. Sleman 2011 – 2015 menetapkan visi yang merupakan cita-cita yang ingin dicapai, yaitu ”Terwujudnya Masyarakat Sleman yang lebih sejahtera lahir batin, berdaya saing, dan berkeadilan gender pada tahun 2015”. Menurut Kepala Bappeda, drg. Intriati Yudatiningsih, M.Kes tujuan seminar adalah untuk mensosialisasikan indikator desa menuju sejahtera agar dapat digunakan oleh kecamatan dan desa untuk mengukur tingkat kesejahteraan, dan memperoleh data dasar guna pembinaan menuju desa sejahtera berikutnya.

Masyarakat Sleman yang lebih sejahtera lahir batin adalah masyarakat yang lebih sehat, cerdas dan berkemampuan ekonomi memadai sehingga dapat mengembangkan kehidupan sosial dan spiritualnya dengan baik. Secara kuantitatif keadaan ini tampak dalam angka pencapaian indeks Pembangunan manusia (IPM) yang pada tahun sebelumnya adalah 78 diharapkan menjadi 80 pada akhir tahun 2015.
Pencapaian visi kabupaten tersebut sangat dipengaruhi kondisi riil dari tingkat dusun, desa sampai dengan kabupaten. Sebagai data dasar guna mengetahui tingkat kesejahteraan tiap desa perlu pemetaan indikator munuju desa sejahtera tersebut, untuk turut mendorong pencapaian masyarakat sleman yang lebih sejahtera maka perlu disusun indikator menuju desa sejahtera agar dapat digunakan di tingkat dusun, desa dalam pembangunan. Sehingga data dan gambaran yang dihasilkan bisa digunakan sebagai perencanaan untuk mencari solusi/pemecahannya baik oleh SKPD di pemerintah kabupaten maupun oleh masyarakat atau perguruan tinggi. Dengan Peserta sejumlah 150 orang terdiri dari SKPD di lingkungan kab. Sleman, Camat dan Desa se Kab. Sleman.

Selanjutnya sambutan Bupati yang dibacakan oleh Sekda dr. Sunanrtono, M.Kes. bahwa Kegiatan seminar dalam rangka launching indikator menuju desa sejahtera ini, merupakan suatu terobosan untuk mempercepat pencapaian visi Kabupaten Sleman yaitu ”Terwujudnya masyarakat Sleman yang lebih sejahtera lahir batin, berdaya saing dan berkeadilan gender pada tahun 2015”. Seringkali selama ini, upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat terkendela dengan ketidakjelasan indikator yang harus dituju.
Di dalam menentukan indikator, juga harus memperhatikan bagaimana proses mencapai indikator tersebut. Janganlah hanya terpaku pada capaian indikator semata. Kalau kita hanya terpaku pada capaian indikator, tanpa memperhatikan proses di dalamnya, hasil yang kita dapatkan tidak akan maksimal, bahkan sangat mungkin, indikator yang tampak, tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, indikator perekonomian menunjukkan bahwa kondisi pendapatan penduduk sangat baik atau lebih tinggi jika dibandingkan indikator yang sama pada tahun lalu. Berdasarkan hasil indikator tersebut, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun realitanya tidak semua masyarakat meningkat kesejahteraannya secara signifikan.
Jika dilihat lebih dalam lagi apa, ternyata masih terdapat gap yang cukup lebar antara masyarakat yang pendapatannya tinggi, dengan masyarakat yang pendapatannya rendah. Terdapat masyarakat yang pendapatannya sangat tinggi, sehingga mampu memberikan nilai tambah yang cukup besar dalam pencapaian indikator perekonomian. Disisi lain terdapat masyarakat yang berpendapatan rendah, dan tidak memberikan kontribusi signifikan dalam capaian indikator perekonomian. Oleh karena itu, seluruh proses agar indikator itu dicapai dengan semua partisipasi masyarakat, juga harus diperhatikan.
Dalam penyusunan indikator Menuju Desa Sejahtera, juga harus melihat seluruh komponen aspek kehidupan masyarakat. Jangan dilupakan, aspek budaya, yang sebenarnya justru menjadi roh dari dinamika masyarakat Sleman. Di dalam indikator utama dan penunjang, Bupati melihat belum ada indikator budaya. Padahal, sebagai bagian dari masyarakat DIY, budaya justru menjadi aspek utama keistimewaan masyarakat DIY.
Penetapan indikator-indikator Menuju Desa Sejahtera juga harus jelas dan harus konsisten. Selain itu, harus selaras dengan ukuran indikator yang telah disepakati secara nasional. Dengan demikian, apabila kita melihat kondisi masyarakat, kita menjadi tahu kondisi masyarakat Sleman serta posisi masyarakat Sleman jika di bandingkan dengan masyarakat daerah yang lain.
Dalam melihat indikator keadilan gender, harus ditentukan indikator yang tepat. Melihat keadilan gender, tidak hanya melihat ukuran-ukuran kuantitas peran laki-laki dan perempuan semata, namun yang lebih penting adalah bagaimana laki-laki dan perempuan dapat berkiprah dan berperan dalam proses-proses pembangunan secara optimal.
Pada kesempatan tersebut,diingatkan bahwa kabupaten Sleman sudah berkomitmen untuk menuju Kabupaten Layak Anak. Diharapkan dalam menetapkan indikator Menuju Desa Sejahtera, juga harus mencakup indikator terpenuhinya hak-hak dan perlindungan anak.

29
Nov

Bank Sleman Segera Miliki Musholla

Di ulang tahunnya yang ke 31 Bank Sleman sebagai Perusahaan Daerah Kabupaten Sleman hingga Oktober 2012 ini telah memiliki total aset mencapai Rp 318,7 miliar, OSC Rp 272,7 miliar, dana pihak ketiga Rp 201,1 miliar dengan total nasabah 27.316 orang.  Saat ini Bank Sleman telah menempati gedung yang baru yang lebih representatif dengan total pegawai 100 orang.

Sebagai wujud rasa sukur Bank Sleman pada HUT -nya menyelenggarakan kegiatan yang dimulai dari tanggal 17 Nopember 2012, kegiatan pertama Bank Sleman adalah mengadakan khitanan massal yang diikuti 57 anak kurang mampu dan yatim piatu diseluruh wilayah kabupaten Sleman.  Pada tanggal 24 Nopember Bank Sleman mengadakan kegiatan intern pegawai Bank Sleman yaitu Ajang Mencari Bakat Bank Sleman (AMBBS), acara tersebut dimeriahkan dengan penampilan opera,baca puisi, menyanyi, dansa, macapat dan fotografi,  kemudian pada tanggal 25 Nopember 2012 diadakan kegiatan jalan sehat yang diikuti oleh seluruh karyawan Bank Sleman dan keluarganya,  dan acara pada tanggal 28 Nopember 2012 adalah puncak dari seluruh rangkaian kegiatan HUT Bank Sleman ke-31.  Pada puncak acara HUT Bank Sleman diadakan tiga kegiatan sekaligus yaitu Deklarasi Budaya Kerja Bank Sleman, pembagian sembako untuk masyarakat kurang mampu yang berjumlah 226 bungkus dan peletakan batu
pertama pembangunan Musholla At-Taqwa yang berada dilingkungan Bank Sleman.

Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, M.S berkesempatan hadir pada acara puncak HUT Bank Sleman ke-31 ini, dan juga melakukan peletakan batu pertama bersama direktur utama Bank Sleman Muhammad Sigit, SE, M.Si untuk memulai pembangunan Musholla At-Taqwa.  Dalam sambutannya Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, M.Si memberikan apresiasi yang tinggi kepada Bank Sleman yang membuat deklarasi budaya kerja yaitu “DOIT” yang memiliki akronim disiplin,orientasi pelanggan, inovasi, terpercaya, menurut beliau budaya kerja bisa meningkatkan kinerja Bank Sleman untuk mengarungi persaingan lembaga keuangan yang semakin berat.  Bupati Sleman juga mengingatkan agar Bank Sleman yang sudah memiliki predikat baik jangan berpuas diri terhadap apa yang sudah didapatkan tapi harus terus meningkatkan apa yang telah didapatkan hingga mencapai puncak dan harus mempertahankannya. Beliau juga mengingatkan agar Bank Sleman selalu menjunjung tinggi profesionalisme tetapi tidak melupakanTuhan YME, dengan dimulainya pembangunan musholla At-Taqwa Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, M.Si berharap sarana peribadatan ini bisa memberikan kenyamanan bagi para nasabah Bank Sleman dan juga bisa meningkatkan profesionalisme seluruh karyawan-karyawati Bank Sleman, karena tidak perlu mencari tempat sholat yang jauh dari kantor, cukup dilingkungan Bank Sleman sendiri sehingga setelah istrirahat Sholat bisa langsung kembali ke kantor untuk memberikan pelayanan kepada para nasabah.

27
Nov

Siswa National Junior College Singapur Pelajari Kepemimpinan Sleman

Untuk kedua kalinya siswa-siswi dari National Junior College Singapore kembali berkunjung ke Sleman. Siswa-siswi ini tertarik untuk mempelajari teknik kepemimpinan Sleman yang dinilai menarik karena mampu menyelenggarakan pemerintahan yang stabil pada masa penanggulangan erupsi Merapi. Mr. Chu yang mengantar siswa-siswinya dalam acara ini menyatakan harapannya agar para siswa dapat mengambil pelajaran tentang kepemimpinan di lapangan di daerah yang unik seperti Sleman.

Asisten Setda bidang Pembangunan, Dra. Suyamsih, MPd yang dalam kesempatan ini didampingi oleh Kepala Bagian Adminitrasi Pembangunan, Dra. Agung Armawanta, MT dan Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda, Drs. Jazim Sumirat menyambut baik kunjungan ini. Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa Pemerintahan Kabupaten Sleman berkomitmen untuk menyelenggarakan pemerintahan yang baik dengan menetapkan beberapa prioritas pembangunan tahun 2012 yaitu pengelolaan bencana dan percepatan pemulihan pasca bencana, menjaga stabilitas ketahanan pangan, menjaga kualitas kesehatan dan pendidikan, peningkatan ekonomi masyarakat berbasis potensi local, peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik, peningkatan kualitas pelayanan public, menjaga kualitas sarana dan prasarana public,menjaga stabilitas keamanan, dan peningkatan peran perempuan dalam pembangunan dan perlindungan anak.

Berbagai program pembangunan tersebut, dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman, yang antara lain terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan, 13 Dinas, 4 Badan, 5 Kantor, Satuan Polisi Pamong Praja, Sekretariat Dewan Pengurus Korpri, 2 RSUD, Staf Ahli Bupati dan kecamatan.

Dialog berlangsung seru dengan berbagai pertanyaan dari para siswa mengenai penjelasan tersebut. Para siswa tertarik dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan kestaraan gender di Kabupaten Sleman. Drs. Agung Armawanta menekankan bahwa kesetaraan gender telah masuk dalam misi BupatI Sleman. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pemerintahan, pemilihan pejabat dan pelaksanaan ketugasan tidak didasarkan pada gender namun pada kapabilitas perorangan. Keseriusan pemerintah dalam peningkatan peran perempuan juga ditunjukan melalui program prioritas kesehatan bagi ibu hami dan menyusui yang dibawahi oleh Badan KBPMPP.

Sleman juga memiliki program pendidikan yang lebih baik dibanding daerah lain di Indonesia, seluruh anak usia sekolah diwajibkan untuk bersekolah minimal 12 tahun hingga level SMA. Untuk melindungi remaja, Pemkab Sleman juga terus melakukan sosialisasi dan pendampingan pendidikan reproduksi hingga ke level desa.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.