Arsip Kategori: Berita

20
Jun

Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional RI : AEC 2015 Peluang Strategis

Guna meningkatkan pengetahuan SKPD di lingkungan Pemkab Sleman akan Asean Economy Community 2015, Pemkab. Sleman menyelenggarakan Sosialisasi tentang Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, dengan narasumber Direktur Kerjasama ASEAN Ditjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Djatmiko Bris Witjaksono, SE,MSIE, pada hari Kamis 19 Juni 2014 di Aula Lantai 3 Sekretariat Daerah. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Bupati Sleman,dihadiri oleh Setda, staf ahli bupati, serta seluruh kepala SKPD. Dalam sambutannya, Bupati mengaharapkan kegiatan sosialisasi ini mampu memberikan bekal pengetahuan, pemahaman dan arah kebijakan bagi seluruh pimpinan SKPD untuk segera membenahi perencanaan untuk menghadapi Komunitas Ekonomi Asean tahun 2015.

Lebih lanjut, bupati mengatakan sejak setahun yang lalu, sebenarnya telah mengingatkan kepada semua pihak di Kab. Sleman akan diberlakukannya Komunitas Ekonomi Asean pada tahun 2015. Namun karena minimnya informasi serta sosialisasi, khususnya bagi aparatur di lingkungan Pemkab. Sleman, sehingga melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengetahui apa dan bagimana strategi menghadapi Komonitas Ekonomi Asean 2015.

Sedangkan Direktur Kerjasama ASEAN Ditjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan RI Djatmiko Bris Witjaksono, SE,MSIE, dalam paparannya mengatakan bahwa Asean Economy Commite 2015, sebenarnya merupakan peluang yang sangat strategis bagi kemajuan perekonomian bangsa Indonesia. Masyarakat jangan hanya melihat AEC sebagai tantangan bahkan hambatan dalam mengembangkan usaha. Justru, AEC merupakan peluang besar untuk meraih keuntangan usaha dan kejayaan perekonomian nasional.

Optimisme, sebagaimana di ungkapkan Direktur Kerjasama Asean ini, didasarkan atas fakta bahwa Indonesia merupakan negara peringkat 1 kekuatan ekonomi di kawasan ASEAN dan 10 besar kekuatan ekonomi di dunia, yang ditandai dengan GDP (Gross Domestic Product) mencapai 878.223, 4 juta US $. Lebih lanjut, Direktur Kerjasama Asean mengatakan, ada dua alasan mengapa kita harus optimis dan tidak takut menghadapi AEC. Pertama, terintegrasikannya ekonomi ASEAN akan memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan ekonomi, serta politik dunia. Kita ingat nenek moyang kita dapat menjadi kekuatan yang mendunia sebagaimana ditunjukaan oleh Majapahit dan Sriwijaya adalah karena mengintegrasikan dalam ekonomi kawasan. Kedua, terbukanya perdagangan merupakan kunci meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum di berlakuknnya Asean Free Trade Area (AFTA) dalam periode tahun 2001-2004 sebesar 1,1%, setelah AFTA (2004-2012) meningkat menjadi 6,2%, nilai ekspor sebelum AFTA sebesar Rp. 95,672 Milyar sedangkat setelah AFTA sebesar Rp. 245,730 milyar.

Direktur kerjasama Asean juga mengungkapkan, saat ini banyak sekali produk kreativitas masyarakat Indonesia yang berjaya di pasar dunia, seperti Eyelashes (bulumata palsu) merupakan produk buatan Purbalingga, digunakan artis dunia, Star 50 merupakan kapal buatan PT PAL berbobot 50 ribu ton yang menjadi salah satu kapal terbaik di dunia, Gucci menggunakan kain tenun Indonesia untuk beberapa produknya, Indofood menjadi produsen instant noodle terbesar di dunia, serta kopi Indonesia menjadi bahan baku di gerai-gerai kopi berjejaring di dunia. Oleh karena itu  AEC jangan dihadapi masyarakat dengan rasa takut, tetapi  justru masyarakat dan dunia usaha harus semakin optimis dan bersemangat untuk terus meningkatkan daya saing dan produktivitas, serta iklim usaha yang kondusif, tegas Direktur Kerjasama Asean Kemendag RI ini.

19
Jun

Kelompok Petani Salak Sleman Kerjasama Pemasaran Salak

Peringatan ulang tahun ke 5 Paguyuban Petani Salak Mitra Turindo Dusun Kembang  Desa Wonokerto, Kecamatan Turi pada hari Rabu tanggal 18 Juni 2014 dihadiri oleh Bupati Sleman, Kepala Dinas Pertanian Popinsi DIY, Kadinas Pertanian Sleman, Camat Turi dan Kepala Desa Wonokerto. Bupati Sleman, dalam sambutannya mengatakan untuk menghadapi pasar global di tahun 2015 dimana perdagangan antar negara  di Asia akan dibuka bebas sehingga membutuhkan kesiapan pelaku usaha untuk dapat menghadapi persaingan pasar.

Lebih lanjut, bupati mengatakan bahwa Sleman mempunyai potensi budidaya salak pondoh yang cukup besar. Pada tahun 2013 setidaknya terdapat 23 kelompok petani salak yang telah melakukan registrasi terhadap kebunnya dengan luas 313 Ha, 537.388 rumpun, 1.090 kebun. Sementara itu sebagai upaya meningkatkan kualitas dan  kwantitas   produksi salak yang berkelanjutan, sertifikasi salak yang telah terdaftar berupa Sertifikasi Prima 3 sebanyak 17 kelompok; Sertifikasi Organik sebanyak 2 kelompok; dan Sertifikasi Global GAP yang masih dalam proses.

Persentase pemenuhan untuk pasar lokal sejumlah 30%, domestik (Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan) sejumlah 68%, dan 2% untuk memenuhi permintaan ekspor ke China dan Singapura. Sedangkan produksi salak pada tahun 2013 mencapai 70.376,61 terus meningkat tiap tahun.

Sementara Paguyuban Mitra Turindo sendiri pada tahun 2013 telah mengirimkan produksi salaknya sebanyak  234,160 kilogram melalui kerjasama  kemitraan dengan PT Agung Mustika Selaras (AMS). Pada tahun 2014 ini sudah mencapai 108,120 kilogram. Hal ini tentunya sangat memotivasi para petani untuk meningkatkan produktifitasnya sehingga  jumlah ekspornya kian meningkat.

Hal ini adalah untuk mengantisipasi menurunnya harga salak ketika terjadi panen raya. Dengan pendampingan dan kerja sama ini diharapkan kesejahteraan petani salak juga semakin meningkat.
18
Jun

Kelompok Tani Sedyo Mulyo Peroleh Bantuan Pengembangan Klaster Sapi Perah

Dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi daerah di wilayah kerja  DIY, kantor perwakilan Bank Indonesia  DIY telah berperan aktif dalam mengembangkan program pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui pengembangan komoditi/produk/jasa usaha (KPJU)yang memiliki prospek untuk berkembang dan sesuai dengan potensi sumberdaya alam/ lingkungan dan ketrampilan masyarakat diwilayah  tersebut. Bertempat di Kantor BI perwakilan DIY dilakukan penandatanganan kesepakatan antara BI dan Pemkab Sleman.  Dalam sambutannya, direktur BI kantor perwakilan DIY Arief Budi Santoso menyampaikan bahwa, bentuk kegiatan yang dilakukan oleh BI, meliputi bantuan teknis, penguatan kelembagaan, dan bantuan fisik, bank Indonesia bersama-sama dengan stakeholders di daerah menjalin sinergi dalam upaya meningkatkan produks, kapasitas usaha, nilai tambah ekonomi masyarakat serta meningkatkan profesionalitas kelompok masyarakat dalam menjalankan usahanya . Hal tersebut sesuai dengan diberlakukannya UU no.23/1999, bahwasanya peranan BI dalam pengembangan UMKM menjadi tidak langsung.  Kebijakan BI diarahkan kepada 2 sisi, yaitu: kebijakan supply side (pengembangan kebijakan yang difokuskan pada berbagai kebijakan dan program untuk membantu Bank dalam menyalurkan kredit kepada UMKM) dan kebijakan demand side(kebijakan yang diarahkan untuk mendorong UMKM agar mampu meningkatkan elektabilitas dan kapabilitasnya sehingga mampu memenuhi persyaratan dari bank (bankable).

Sebagai implementasinya, kegiatan dilakukan melalui pendekatan klaster yang bersifat terintegrasi, meningkatkan daya tawar dan efisiensi biaya serta berdampak pada pengembangan ekonomi wilayah, pengembangan komoditas unggulan, yang didukung program sosial BI.

Untuk menjaga keberlanjutan kerja sama pengembangan UMKM dengan Pemda, khususnya pemkab Sleman, dan BI juga akan melakukan pembinaa terhadap UMKM, yang dalam tahun ini, komoditas yang dipilih menjadi mitra binaan adalah komoditas sapi perah kelompok Sedyo Mulyo yang berada di Boyong, Pakem, Sleman.

BI berharap agar kerja sama yang dibangun dengan Pemkab. Sleman dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi pelaku usaha UMKM dan kedepannya dapat berjalan dengan baik dan lancar, sehingga mampu menghasilkan karya yamh nyata, bermanfaat dan memberikan nilai tambah serta daya saing bagi pelaku UMKM khususnya komoditas sapi perah Sleman.

Bupati Sleman, Sri Purnomo yang hadir dalam penanda tanganan tersebut, menyampaikan bahwa, bantuan pengembangan klaster sapi perah ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan penataan lokasi peternakan. Klastering in  juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi susu sapi di Kabupaten Sleman.  Tahun 2013, di KabupatenSleman  terdapat  751  kelompok tani ternak dan 511 kelompok ternak sapi. Jumlah populasi ternak sapi perah sebanyak 3.614ekor. Dengan produksi susu sebanyak 3.565,85 ton. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan produksi tahun 2013 yaitu 3.149,54  ton. Potensi produksi susu dari lereng Merapi tersebut memang menjadi salah satu unggulan dari kecamatan Pakem. Kedepannya, Bupati berharap masyarakat Sleman dapat membudidayakan ternak sapi dengan lebih optimal. Jika masyarakat dapat memulai budidaya ternak sapi ini sejak awal, mulai dari pembibitan maka peternak sapi perah di Sleman dapat semakin meningkat kesejahteraannya. Hal ini sangat mendesak dilakukan mengingat kenyataan di lapangan membuktikan bahwa sangat sulit untuk mencari bibit sapi perah yang berkualitas dan juga harga yang relatif tinggi.  Bupati Sleman juga memberikan apresiasi kepada BI atas kegiatan ini, beliau berharap agar di kemudian hari kerjasama antara BI dan pemkab Sleman dapat lebih ditingkatkan.***
Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.