Arsip Kategori: Berita

14
Jul

Pemkab Sleman Bagikan 200 paket sembako murah di Seyegan

Seyegan, 13 Juli 2015 bertempat dibalai desa Margoagung Seyegan dilaksanakan kegiatan bakti sosial panitia peringatan HUT RI ke-70 Pemkab. Sleman.  Bakti sosial yang dilaksnakan kali ini sedikit berbeda dengan bakti sosial pada tahun sebelumnya, karena panitia kali ini menyelenggarakan pasar murah bagi masyarakat yang kurang mampu di lingkungan Desa Margoagung Seyegan.  Pasar murah ini menyediakan 200 paket sembako yang terdiri dari beras 2,5kg, minyak 1 botol, gula pasir 1 kg, teh celup 1 pak, sirup 1 botol, biskuit 1 kaleng, dan juga roti kering yang merupakan sumbangan salah satu donatur.  Selain itu panitia juga menyiapkan baju pantas pakai yang dijual dengan harga bervariasi yaitu dari 2000-15.000 rupiah dan juga perkakas layak pakai seperti blender, gelas, dan alat  masak.

Dalam laporannya, koordinator bakti sosial panitia HUT RI ke-70 Pemkab. Sleman Agung Armawanta, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial yang diwujudkan dalam bentuk pasar murah ini diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu yang ada di wilayah desa Margoagung, adapun data keluarga kurang mampu tersebut dikoordinir dari pihak dusun masing-masing.  Pihak panitia menyiapkan 200 paket sembako senilai Rp. 90.000,- yang dapat dibeli dengan Rp. 30.000,-.  Selain itu juga ada bazar pakaian pantas pakai dan juga perkakas pantas pakai hasil sumbangan dari berbagai donatur.

Dalam sambutannya, asisten bidang administrasi Joko Handoyo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan besar peringatan HUT RI ke-70 yang diadakan oleh Pemkab. Sleman, Joko Handoyo berharap dengan kegiatan ini dapat memberikan sedikit keringanan masyarakat kurang mampu yang sebentar lagi akan merayakan lebaran.  Joko juga menghimbau agar nantinya masyarakat juga menyemarakkan kegiatan peringatan HUT RI ke-70 dilingkungannya masing-masing.

14
Jul

Pemudik Dianjurkan Manfaatkan jalur Alternatif Untuk Menghindari Kemacetan


Sleman, 13 Juli  2015 Dr  Yuni Satia Rahayu Wakil Bupati Sleman bersama Kapolres, Dandim, Kadis Perhubungan serta SKPD terkait melihat langsung Kesiapan pos pengamanan dan kesiapan petugas dari Polisi dan TNI, PMI, Pos Kesehatan, Puskesmas,  Jasa Raharja, Pos Pramuka dan para Relawan yang membantu untuk kelancaran arus mudik lebaran.
Pos  Arus mudik lebaran yang ditinjau Wakil Bupati  bersama Tim Gabungan yaitu Pos Gamping Jalur Selatan,  Pos Jombor dan terminal, dan Pos Tempel utara perbatasan dengan Jateng sudah mulai tampak ada peningkatan jumlah kendaraan pada beberapa ruas jalan utama di Kabupaten Sleman.
Tim Kabupaten Sleman  dan SKPD terkait  sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk memperlancar arus lalulintas. Hal ini diupayakan agar arus perjalanan para pemudik lancar dan selamat sampai tujuan,  karena Kabupaten Sleman merupakan  bagian tengah wlayah DIY yang menjadi  kantong Wisata dan pemudik dari luar Daerah.
Untuk mengatasi hal tersebut beberapa ruas jalan yang dimungkinkan akan mengalami kemacetan harus dipecah, seperti di perempatan Tempel  jalan Magelang  kendaraan dari arah Magelang tujuan Yogyakarta/Solo diarahkan melalui jalur alternatip. Misalnya kendaraan tujuan Solo/ Jawa Timur diarahkan melalui jalur alternative, yaitu melewati Turi, Pakem selanjutnya kearah Cangkringan dan nantinya tembus prambanan. Sebaliknya yang tujuan selatan bisa diarahkan ke jalur Tempel selatan – Seyegan dan nantinya tembus perempatan Gedongan Moyudan, hingga arus kendaraan tidak terlalu padat.  Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sleman Dr Yuni Satia Rahayu.
Disampaikan Wakil Bupati Sleman bahwa dengan padatnya arus kendaraan beberapa instansi terkait harus bahu membahu memberikan pelayanan terbaik pada pengguna jalan serta koordinasi dengan tim Arus Mudik Lebaran  Kabupaten dan Kota. Wakil Bupati juga menghimbau kepada para pemudik dan pengguna jalan  agar metaati rambu lalu lintas dan  arahan petugas pos di lapangan,  karena hal ini akan memudahkan semuanya bisa berjalan lancar dan tertib serta menjaga kondisi kesehatan bagi petugas dan para sopir.
Menurut wakil bupati Sleman bahwa arus mudik saat ini belum terlalu padat, meskipun demikian aparat petugas harus tetap siap dalam menghadapi ramainya arus lalu lintas. Diprediksi kepadatan arus lalu lintas mulai Rabu 15 Juli 2015. Diharapkan pada awak angkutan untuk selalu menjaga kondisi dan kesehatan.   Jika merasa capek bahkan mengantuk, awak kendaraan/sopir harus beristirahat dulu meskipun hanya sebentar, tidak memaksakan diri untuk terus melanjutkan perjalanan, karena keselamatan penumpang jauh lebih penting.

 


13
Jul

Produk Topi Bordir dari Joho Telah Lama Merambah Pasar Nasional

Tepatnya di dusun Joho, Condongcatur, Depok Sleman, adalah sentra produksi topi, emblem bordir,jaket dan kaos serta tas. Adalah Bapak Jupriyono yang merupakan dukuh Joho yang memulai produksi topi di tahun 1975-an. Produksi topi semula hanyalah sebatas perorangan, namun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah produksi massal. Tenaga kerja yang direkrut adalah dari lingkungan keluarga. Hingga saat ini terdapat sekitar 30 pengrajin topi dan bordir dengan 2 kelompok yaitu Bordir Mandiri dan Bordir Koprinka. Sementara untuk pemasaran produk Joho ini, Supriyono menjelaskan bahwa tidak menghadapi kendala yang berarti. Selama ini warga Joho memperoleh order yang berskala nasional, bahkan Papua pun pernah  memesan produk dari Joho.

Pada tahun 2002, kelompok bordir di Joho memperoleh hibah berupa mesin senilai 450 juta rupiah, sehingga produk topi berkembang menjadi berbagai produk lainnya seperti emblem/logo perusahaan dan instansi. Sayangnya saat ini mesin tersebut tidak dioperasikan karena operator mesin sedang keluar kota. Hal ini merupakan satu kemajuan mengingat sebelum menggunakan mesin, pengrajin Joho harus membordir topi dan produk lainnya di luar daerah. Dengan mesin bermata jarum 12, warga Joho mampu memproduksi topi dan produk lainnya dalam jumlah ribuan.
Menurut Supriyono, ketua kelompok bordir menjelaskan bahwa produk yang cukup menguntungkan adalah topi pet, yaitu topi yang dipakai TNI. Order di Joho biasanya padat di bulan Agustus yang merupakan tahun ajaran baru. Pesanan bisa mencapai puluhan ribu item. Dalam satu hari warga Joho bisa memproduksi 3000 topi.  Hingga saat ini, juga masih ada pengrajin yang mengerjakan topi sulam dengan cara manual. Kebetulan mereka yang mengerjakan topi sulam manual ini adalah para difabel. ***
Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.