Arsip Kategori: Berita

23
Jan

Satgas SPIP Karangasem Studi Banding Ke Sleman

Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di Kabupaten Sleman menjadi bahan study banding pada kunjungan kerja Satgas SPIP dari Kabupaten Karangasem, Bali pada Selasa, 22 Januari 2013 bertempat di Ruang Rapat Setda B Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman. Hadir dalam acara tersebut Bupati Sleman, Sri Purnomo, Asisten Setda Bidang Pembangunan, Dra. Suyamsih, MPd dan sejumlah pejabat terkait.
Wakil Bupati Karangasem, I Made Sukerana, SH yang turut hadir dalam acara ini menyampaikan bahwa Kabupaten Karangasem tertarik untuk mempelajari mengenai implementasi SPIP di Kabupaten Sleman. Sleman dianggap berhasil dalam menerapkan SPIP di dalam sistem pemerintahannya. Hal ini dapat dilihat dari komitmen yang dibuat melalui Perbup No. 35 Tahun 2010 tentang pelaksanaan  Sistem Pengendalian Intern Daerah yang merupakan tindak lanjut dari PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP.
Bupati Sleman menyampaikan bahwa SPIP merupakan bagian dari upaya sistem pembenahan sistem penyelenggaraan pemerintahan untuk mendukung terselenggaranya good governance baik dari perencanaa, pelaksanaan maupun pada tahap evaluasi. Pemkab Sleman telah memulai sistem ini dengan menyelenggarakan diklat maupun sosialisasi.
Sejak tahun 2010 Pemkab Sleman telah mendeklarasikan penerapan SPIP, dan mulai tahun 2011 mulai melakukan pembentukan satgas SPIP dan penyelenggaraan Diklat SPIP. Sejak awal tahun 2012 yang lalu SPIP secara intensif dibangun, diterapkan, dievaluasi dan terus dikembangkan mulai dari tahap knowing, mapping, norming, forming. Saat ini Pemkab Sleman telah selesai melakukan forming. Hasil pelaksanaan tahapan norming dan forming telah dipaparkan Perwakilan BPKP Provinsi pada tanggal 5 Desember 2012 yang lalu.
Di level SKPD, Pemkab Sleman berupaya membentuk satgas di 48 OPD untuk membuat mapping kegiatan di masing-masing SKPD. Pembuatan mapping SPIP ini kemudian dipaparkan untuk dievaluasi. Dengan melakukan SPIP, Pemkab Sleman berharap dapat mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan kegiatan dan memperbaiki kinerja SKPD.

22
Jan

SMK Nasional Berbah Dicanangkan Sebagai Sekolah Siaga Bencana

Hari Sabtu, 19 Januari 2013 telah dilaksanakan Pencanangan Sekolah Siaga bencana (SSB) SMK Nasional Berbah. Acara dihadiri Bupati Sleman Sri Purnomo dan tamu undangan lainnya. Menurut Kepala Sekolah SMK nasional Berbah, sekolah ini dibawah Yayasan Pendidikan Teknologi Nasional Yogyakarta yang berkantor di Babarsasri Kampus STTNas Yogyakarta, dan telah melaksanakan Sistem manajemen Mutu ISO 9001 : 20008 mulai tahun 2010.  SMK nasional Berbah mempunyai 4 Kompentensi Keahlian yang terakreditasi A, meliputi : Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi tenaga Listrik, Kompetensi Keahlian Teknik Mesin, Kompetensi Keahlian Teknik Otomotif kendaraan Ringan, dan Komptensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.
Selain itu SMK Nasional berbah juga mengadakan Workshop Pengembangan Kurikulum yang mengacu pada Mitigasi Bencana mencakup tentang : Visi, Misi dan Tujuan Sekolah, Standar Kopetensi lulusan, Silabus dan indikatornya, juga Rencana proses pembelajaran )RPP) dan materi pembelajaran. Serta mempunyai sarana pendukung berupa fisik untuk menjadikan SMK Nasional berbah menjadi Sekolah Siaga Bencana antara lain : Adanya denah/peta jalur evakuasi dan papan-papan petunjuk evakuasi, tempat titik kumpul, Ada sirine/Kentongan sebagai alat member petunjuk ada Gempa Bumi, Peralatan evakuasi dan PPGD seperti Dragbar, tenda, spalk, mitela, P3K, serta Peralatan Komunikasi (HT), Radio baterre, senter, alat pemadam kebakaran.Demikian laporan yang disampaikan Kepala Sekolah SMK Nasional Berbah Dwi Ahmadi, Spd.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Drs. H Sri Purnomo, MSI mengatakan bahwa Kabupaten Sleman merupakan daerah yang diberi anugerah Tuhan dengan berbagai potensi yang dimiliki. Namun, di balik itu, dari komposisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis, Kabupaten Sleman menyimpan potensi bencana yang diakibatkan factor alam maupun non alam.
Pada tahun 2010 yang lalu, semua merasakan bagaimana dasyatnya erupsi Gunung Merapi, yang kemudian diikuti oleh banjir lahar dingin yang terus mengancam sampai saat ini. Beberapa saat yang lalu, sebagian masyarakat Sleman juga terkena angin puting beliung yang juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk itu, Saya berharap agar semua elemen masyarakat di Kabupaten Sleman mengerti dan memahami bagaimana menanggulani bencana dan menjadi tangguh dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Menghadapi fenomena bencana yang makin luas dan kompleks, sesuai Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus menyelenggarakan, bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, Tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana. Paradigma penanggulangn bencana, tidak lagi di titik beratkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan resiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat termasuk sekolah.
Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan lokal wisdom masyarakat Sleman. Oleh karena itu pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini. Mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah. Siswa-siswa sangat perlu diberi pemahaman dan pembinaan bagaimana cara penanggulangan dan mitigasi bencana.
Bupati juga memberikan apresiasi atas upaya SMK Nasional Berbah yang telah menempatkan mitigasi bencana menjadi salah satu bagian dari materi ajar dan kurikulum pembelajaran sekolah. Diharapkan sekolah-sekolah yang lain, dari jenjang terbawah di Kabupaten Sleman juga harus mengikuti langkah SMK Nasional Berbah ini. Melalui program sekolah siaga Bencana, guru-guru dan siswa nantinya menjadi agen maupun pelaku dalam penanggulangan bencana. Tidak hanya di sekolah, namun juga aktif dan pro aktif menggerakkan masyarakat di lingkungannya.
***

21
Jan

Tidak Ada Pemogokan Penjual/Pedagang Daging

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir. S. Riyadi Martoyo, MM mengungkapkan bahwa di Kabupaten Sleman tidak terjadi pemogokan penjual/pedagang daging sapi seperti yang diisukan selama ini. Para penjual/pedagang daging sapi masih tetap berjualan seperti biasanya, hanya saja terjadi penurunan pemotongan sapi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masih cukup banyak para penjual bakso yang berjualan meskipun ukurannya diperkecil. Hal ini merupakan indikator bahwa transaksi daging sapi masih berlangsung.
Beberapa jagal juga mengatakan tidak ada rencana untuk mogok berjualan daging. Seperti di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) Mancasan biasanya bisa memotong 5 hingga 7 ekor sapi perhari, namun saat ini hanya memotong 1 hingga 2 ekor sapi saja. Harga daging sapi di pasar (eceran) per tanggal 17 Januari 2013 berkisar antara Rp 95.000 s/d Rp 96.000 per kg. Sedangkan harga dari jagal kepada para pedagang eceran sekitar Rp 92.000/kilogram. 
Harga daging sapi sangat ditentukan oleh adanya penawaran dan permintaan dari komoditas yang bersangkutan. Kebijakan pemerintah sebelumnya agak longgar impor sapi maupun daging beku. Sedangkan pada tahun 2012 sampai dengan saat ini sangat membatasi impor, sehingga sangat mempengaruhi keseimbangan supply-demand. Supply berkurang, permintaan tetap atau bahkan naik, maka terjadi kenaikan harga. Fenomena kenaikan harga daging sapi mulai terjadi sejak bulan Ramadhan 1433 H hingga sekarang.     Dijelaskan pula bahwa pasar ternak/daging terbuka secara nasional, artinya tidak ada larangan ternak sapi dari satu daerah untuk dibawa ke daerah lain. Ternak yang dipasarkan di pasar hewan Gamping  selain berasal dari DIY, juga datang dari Klaten, Muntilan, Purworejo dan Kebumen.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.