Arsip Kategori: Berita

4
Dec

Sri Purnomo, PGRI Bukanlah Alat Politik

Hari Ulang Tahun Ke 67 PGRI DIY telah menyelenggarakan Resepsi HUT PGRI yang tahun ini bertempat di Kabupaten Sleman yaitu di Gedung Serbaguna yang diikuti segenap anggota PGRI se DIY sekitar 1000 orang. Dalam laporan yang disampaikan oleh Ketua PGRI DIY Zaenal Fanani, Mpd bahwa kegiatan hari Guru Nasional dan juga HUT Ke 67 PGRI DIY ini yang dilakukan panitia semua kegiatan, dan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tiap tahun selalu diperingati bersama antara Kementrian Dikbud, Kemenag dan PGRI, akhirnya dilanjutkan di tiap tingkatan Propinsi, Kabupaten dan Kota diseluruh Indonesia. Hari Guru Nasional dan HUT ke 67 PGRI untuk tahun ini mngambil tema ” Memacu Profesionalisme Guru melalui Peningkatan Kompetensi Yang Menekan Kode Etik ” sekarang pada saatnya kita memang akan menuju ke Profesionalisme dengan jumlah anggota PGRi seluruhnya ada 13.244 orang.
Pada acara Hari Guru Nasional dan HUT Ke 67 PGRI juga disampaikan penghargaan kepada para guru dan lainnya yang berpretasi disampaikan oleh Gubernur DIY yang diwakilkan Ka Dinas Dikpora DIY Drs. R Kadarmanta Baskara Aji dan Bupati Sleman Drs. H Sri Purnomo, Msi.

Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, Msi, dalam kesempatan tersebut antara lain mengatakan ia berharap melalui  peringatan HUT PGRI dan hari Guru ini, dapat menjadi cambuk pendorong bagi kita semua, khususnya para guru untuk lebih meningkatkan lagi kapasitas, kapabilitas, dan profesionalitas, sehingga mampu mewujudkan cita-cita kita bersama yakni terwujudnya generasi yang cerdas, berahlak mulia serta berkepribadian.
Ditambahkan pula bahwa PGRI kabupaten Sleman, saat ini beranggotakan 13.244 orang, yang terdiri dari 7.257 guru sekolah negeri dan 5.978 guru sekolah swasta. Dari jumlah tersebut sebanyak 7.121 guru telah bersertifikasi. Kami berharap melalui sertifikasi tersebut, kualitas guru juga semakin meningkat untuk mendukung ujian kompetensi guru (UKG) sebagai dasar guna mengetahui pemetaan kualitas guru. Namun demikian kepada guru yang belum bersertifikasi juga kami motivasi bukan saja untuk memenuhi persyaratan sertifikasi, tetapi juga untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan anak didiknya.
Selain itu, terkait dengan dikenakannya kewajiban penilaian kinerja guru (PKG) dan program keprofesian berkelanjutan (PKB) bagi guru sekolah negeri, saya harapkan guru sekolah swasta juga dapat mengadopsi hal tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya. 
Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat kompleks, baik permasalahan dan tantangannya. Misalnya saja upaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik, selain harus ditunjang sistim pendidikan yang baik, infrastruktur prasarana dan sarana sekolah yang memadai, juga erat kaitanya dengan profesionalisme dan kesejahteraan guru.  Boleh dikatakan masalah satu dengan yang lain saling kait-mengkait dan saling mempengaruhi.
Kesejahteraan guru telah diperhatikan oleh pemerintah. Bagi guru yang bersertifikasi tentunya juga telah mendapatkan tunjangan profesi sehingga kinerja dan kompetensi guru seharusnya juga meningkat. PGRI sebagai wadah para guru ini diharapkan dapat mengawal kinerja guru dan harus terus mendorong agar guru yang bersertifikasi memiliki kinerja dan kualitas yang lebih baik daripada sebelumnya.
Pada kesempatan ini Sri Purnomo juga kembali mengingatkan bahwa profesi guru tidak boleh diselewengkan untuk tujuan yang lain sehingga sudah semestinya bila PGRI sebagai organisasi profesional guru untuk tidak menjadi alat politik. PGRI sebagai wadah organisasi guru haruslah mengutamakan kepentingan pendidikan, memperhatikan kemajuan guru dan pengembangan pendidikan.
Sri Purnomo juga berharap dengan dikenakannya seragam PGRI pada setiap hari Sabtu, nantinya menjadi salah satu upaya untuk memotivasi diri bahwa menjadi guru juga berarti menjadi teladan dan memiliki tanggung-jawab untuk mencerdaskan anak didik.
Gubernur DIY dalam sambutan tertulis yang dibacakan  Kepala Dinas Dikpora DIY Drs. R Kadarmanta Baskara Aji bahwa kita semua menyadari bahwa pendidikan merupakan sistem sosial terbaru untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan dan kemartabatan suatu bangsa. Kitapun menyadari dan meyakini bahwa guru merupakan tonggak utama dalam dunia pendidikan, untuk itu sangatlah tepat bahwa guru dijadikan sebagai profesi yang harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesiotasnya, sehingga untuk perlindungan kesejahteraan semakin lama semakin bertambah baik. Meskipun demikian masih ada  pertanyaan  yang sangat mendasar yang harus kita jawab yaitu : Apakah Guru Sebagai Profesi dengan segala konskuensinya terutama dengan peningkatan kesejahteraan, sudah mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, jawabannya tentunya ya.

3
Dec

Pemkab Himbau Masyarakat Berhati-Hati Menggunakan Obat Tradisional

Masyarakat diharapkan berhati-hati dalam mengkonsumsi obat dan obat tradisional, karena sebagian besar terutama  obat tradisional yang beredar di masyarakat banyak mengandung BKO ( Bahan Kimia Obat). Sebetulnya sesuai dengan ketentuan obat tradisional tidak boleh mengandung dan menggunakaan BKO. Hal tersebut  disampaikan  Kepala Seksi Farmakmin Bidang  Sumbar Daya Kesehatan Dinkes Gunanto, Skm, Msc saat  Evaluasi hasil pemantauan peredaran obat tahun 2012 di Dinkes Senin 3 Desember 2012. Lebih lanjut disampaikan bahwa  untuk mengkonsumsi obat tradisional masyarakat harus hati-hati dan tidak sembarang dalam membeli, karena berbagai jenis obat tradisional tersebut dengan mudahnya didapat di pasar-pasar tradisional dan di warung-warung. Sementara untuk memproduksi obat tradisional harus memenuhi berbagai criteria, dan untuk dapat memiliki izin edar, obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka harus memenuhi criteria sebagai berikut : menggunakan bahan berkhasiat dan bahan tambahan yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan/khasiat.  Dibuat sesuai dengan ketentuan tentang pedoman cara pembuatan obat tradisional yang baik atau cara pembuatan obat yang baik yang berlaku dan  penandaan berisi informasi yang lengkap dan obyektif yang dapat menjamin penggunaan obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka secara tepat, raasional dan aman sesuai dengan hasil evaluasi dalam rangka pendaftaran. Yang perlu diperhatikan pula bahwa obat tradisional tidak boleh mengandung bahan kimia hasil isolasi/sintetik yang berkhasiat obat, berbentuk suppositoria, intravaginal, tetes mata, obat suntik dan bentuk cairan dengan kadar etanol > 1%.

Sedangkan pemantauan peredaran obat itu sendiri dilaksanakan mulai tanggal 17 Oktober sampai dengan 28 Nopember 2012 dengan frekuensi 8 kali yang meliputi toko obat 4 tempat, depot jamu 12  tempat, kios pasar tradisional 6 tempat, toko kelontong 2 tempat, toko obat herbal 2 tempat, dan rumah sakit 1 tempat. Dari hasil pemantauan tersebut sebagian besar tidak ada Ijin HO nya. Sedang  berbagai jenis obat tradisional yanh dijumpai di depot jamu yang mengandung BKO antara lain  Urat Madu, Tapak Liman cikungunya dll. Yang dijumpai di kios pasar tradisional  Akar Desa encok asam urat dan di Toko Kelontong yang dijumpai antara lain Super Jos flu tulang.Sementara pemantauan yang dilakukan di  Toko Obat Herbal dijumpai  The rossela mesir. Ditambahkan Gunanto masih banyak jenis obat tradisional yang beredar di masyarakat yang mengandung BKO.

Sementara itu tindakan yang telah dilakukan dengan berita acara pemeriksaan dengan tembusan yang bersangkutan, penyegelan dan perusakan kemasan si tempat, sosialisasi public warning obat tardisional yang dilarang beredar dan koordinasi dengan sector terkait. Dari hasil pemantauan dan evalusi tersebut antara lain pengelola/pemilik depot jamu sebagian besar adalah pendatang dari luar jawa, beberapa produk yang dilarang beredar jarang ditemukan di perkotaan, tetapi banyak ditemukan di daerah pedesaan/pinggiran. Disamping itu kebersihan peralatan peracikan kurang diperhatikan pengelola depot. Bertindak sebagai  tim pemantau aadalah Dinas Kesehatan, Dinas Perindakop, Dinas Pol PP dan Baalai Besar POM.

30
Nov

Wabup, “Haji Harus Jadi Panutan Bagi Masyarakat”

Menunaikan rukun Islam yang ke-5 bagi umat Islam adalah hal yang spesial, ibadah haji adalah ibadah yang  istimewa karena tidak semua umat Islam dapat melaksanakannya. Untuk melaksnanakan ibadah haji tidak hanya memiliki kesiapan materi semata tapi juga harus memiliki kesiapan mental dan spiritual, agar jemaah haji bisa menjadi haji yang mabrur.

Jema’ah Haji kabupaten Sleman yang telah kembali ke tanah air diundang pada acara Mangayubagya Jamaah Haji Kabupaten Sleman yang dilaksanakan hari Jumat 30 Nopember 2012 dipendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.  Sebagian besar Jama’ah Haji Kabupaten Sleman hadir dalam acara tersebut.  Turut hadir pada cara tersebut Wakil Bupati Sleman Hj. Yuni Satia Rahayu, S.S.,M.Hum., forum pimpinan daerah, dan Drs. H. Edy Gunawan, M.Pd dari Kementrian Agama Kabupaten Sleman.

Dalam laporan penyelenggaraan haji oleh Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sleman yang dibacakan oleh  Drs. H. Edy Gunawan, M.Pd, bahwa penyelanggaraan Haji di Kabupaten Sleman pada tahun 1434H/2012M berjalan dengan lancar, jama’ah Haji Kabupaten Sleman yang diberangkatkan berjumlah 1190 orang terdiri dari 6 kloter, dan pada saat kembali ke kabupaten Sleman berjumlah 1189 orang, 1 orang meninggal di tanah suci karena sakit dan dimakamkan disana yaitu Supri Hadiwiyoto bin Partoharjo, yang beralamat Bimomartani, Ngemplak Sleman. Beliau berharap mendapat masukan dari para jemaah haji yang sudah kembali ke tanah air, agar penyelenggaraan haji ditahun-tahun mendatang bisa menjadi lebih baik.

Sambutan Bupati Sleman yang dibacakan oleh Wakil Bupati Sleman  Hj. Yuni Satia Rahayu, S.S.,M.Hum berharap kepada jama’ah haji yang telah kembali untuk terus menjaga kemabrurannya dengan cara meningkatkan ibadahnya, sedekahnya dan juga menjadikan para jema’ah haji ini menjadi panutan dan tauladan di masyarakat.  Para jema’ah Haji diharapkan untuk memupuk toleransi dan solidaritas didalam masyarakat baik yang seiman atau dengan masyarakat yang memiliki kepercayaan lain sehingga dapat tercipta stabilitas keamanan dan perdamian di kabupaten Sleman.  Wakil Bupati Sleman mengingatkan bahwa Kabupaten Sleman ini adalah miniatur Indonesia karena banyak sekali terdapat perguruan tinggi di Kabupaten Sleman, sehingga menjadi tujuan dari seluruh masyarakat Indonesia yang berbeda suku, bahasa, agama dan warna kulit yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Kabupaten Sleman ini.  Wakil Bupati Sleman berharap para jama’ah Haji agar bisa menjadi pionir dalam
melaksanakan toleransi di dalam masyarakat.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.