Arsip Kategori: Berita

27
Sep

Dusun Brajan Dikukuhkan Menjadi Sentra Kerajinan Bambu

Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir Kabupaten Sleman dikukuhkan menjadi Sentra Industri Kerajinan Bambu oleh Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun pada Senin (26/9). Pengukuhan tersebut merupakan wujud komitmen Pemkab Sleman dalam pengembangan produksi kerajinan bambu menindaklanjuti Surat Keputusan Bupati Sleman No. 57 Tahun 2016 tentang Sentra Industri di Kabupaten Sleman Tahap II.

Sulisman selaku Ketua Kelompok Pengrajin Bambu Brajan menjelaskan bahwa Dusun Brajan mulai merintis menjadi sentra kerajinan bambu dimulai pada tahun 1991. Sebelum tahuun 1990 awalnya Dusun Brajan merupakan kawasan kumuh dengan ekonomi masyarakat dibawah garis kemiskinan, hampir setiap rumah terbuat dari gedhek (anyaman bambu) dan jarang anak-anak muda yang bersekolah karena kekurangan biaya. Keadaan tersebut menjadikan masyarakat Brajan harus memutar otak yang pada akhirnya dengan bekal kemampuan menganyam bambu mereka mulai memberanikan diri memproduksi kerajinan hingga sekarang.

“Dengan bambu tersebut lambat laun kehidupan ekonomi masyarakat Brajan meningkat yang akhirnya bisa bertahan dan menjadi sumber penghasilan warga hingga sekarang”, jelas Sulisman.

Menurut Sulisman pada tahun 2004 Dusun Brajan dicanangkan menjadi Desa Wisata Cinderamata Kerajinan Bambu. Sempat vakum beberapa tahun barul pada tahun ke 5 dikelola dan dikembangkan lagi oleh warga masyarakat. Saat ini di Dusun Brajan terdapat kurang lebih 120 pengrajin dan 8 pengepul produk kerajinan. Brajan juga menjadi tempat study wisata kerajinan dengan menyediakan homestay yang mampu menampung 50 orang.

Kepala Disperindagkop Kabupaten Slemann Drs. Pustopo menyampaikan bahwa tujuan pengukuhan sentra industri adalah untuk meningkatkan kompetensi sentra dalam kancah ekonomi global. Selain itu juga untuk meningkatkan peran serta kelembagaan sentra dalam pemberdayaan ekonomi melalui sentra industri kecil. “Pada tahun 2015 Kabupaten Sleman mengukuhkan 10 sentra kerajinan, dan 2016 ini mengukuhkan 6 sentra termasuk Dusun Brajan”, jelas Pustopo.

Sementara itu Sri Muslimatun berharap dengan dikukuhkannya Dusun Brajan, Sendangagung, Minggir Kabupaten Sleman dapat meningkatkan dan pengembangkan potensi kerajinan bambu yang ada di  wilayah Brajan. Muslimatun juga  mengajak seluruh pelaku industri, stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama memajukan potensi UKM yang ada di masing-masing wilayah. Salah satu caranya adalah dengan ikut menggunakan produk-produk tersebut, sehingga produk-produk UKM dapat menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Lebih lanjut Muslimatun menambahkan bahwa salah satu pelaku usaha yang memiliki eksistensi penting dalam pembangunan perekonomian daerah di Sleman adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). “Keberadaan UMKM, memiliki hubungan positip dalam program pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pada akhir tahun 2015 Kabupaten Sleman memiliki 36.000 UKM”, tambah Muslimatun
26
Sep

Sleman Raih 2 Kategori Penghargaan dalam Indonesia’s Attractiveness Award 2016

Dalam ajang Indonesia’s Attratractiveness Award 2016 yang diselenggarakan Tempo Media Group Sleman mendapat 2 penghargaan. Kabupaten Sleman terpilih menjadi Kabupaten Terbaik peringkat 7 dari 24 Kabupaten yang terpilih dari seluruh Indonesia. Sementara untuk Kabupaten terbaik Kategori Pariwisata Sleman terpiliih nomor 2 setelah Kabupaten Badung dan di atas Kabupaten Buleleng. Penghargaan Kabupaten terbaik diserahkan Menpan Reformasi Birokrasi RI Asman Abnur dan penghargaan pariwisata diserahkan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi RI di Ballroom 2 Hotel Mulia Senayan Jakarta, Jum’at, 22 September 2016 diterima oleh Assekda Bidang Pembangunan Dra. Suyamsih, MPd.

Menurut Direktur Tempo Bambang Harymurti, penghargaan ini diberikan kepada 12 pemerintah provinsi, serta 72 kabupaten dan kota yang memperlihatkan kemajuan pertumbuhan perekonomiannya. Untuk memperlihatkan kemajuan, harus ada peningkatan produktivitas hingga 60 persen.

Menurut Bambang peningkatan tersebut dapat dicapai dengan cara peningkatan investasi dan pelayanan publik. “Investasi bukan saja membawa modal, tapi juga keahlian masyarakat, sehingga produktivitas meningkat,” ujarnya. Penentuan Nominasi penghargaan didasarkan pada kontribusi PDRB diatas 25 % dan pengukurannya menggunakan 4 dimensi yakni investasi, infrastruktur, pariwisata dan pelayanan publik. Penilaian dilakukan berdasarkan data primer dan sekunder, untuk data sekunder berasal dari berbagai instansi seperti BKPM, BPS, Bank Indonesia dan kementrian-kementrian. Sedangkan pengumpulan data primer dilakukan dengan cara Mystery Calling terhadap 12 institusi di masing-masing Kabupaten.

23
Sep

Desa Banyuraden Gamping Masuk Empat Besar Lomba TOGA Nasional

Desa Banyuraden Gamping Sleman yang diwakili oleh Dusun Modinan dan Dusun Geplakan menjadi empat besar nasional mewakili Provinsi DIY dalam lomba Penilaian Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Tingkat Nasional. Menurut Ketua Tim Penilai Pusat Meinarwati Apt., M.Kes., dalam sambutannya di Dusun Modinan pada Kamis (22/9) Desa Banyuraden akan bersaing dengan 3 desa lainnya dari perwakilan Provinsi Lampung, Riau, dan Gorontalo.

Meinarwati menjelaskan bahwa tujuannya bersama tim yang terdiri dari lima orang berkunjung ke Desa Banyuraden adalah untuk melakukan verifikasi lapangan.  Menurutnya verifikasi ini merupakan tindak lanjut dari verifikasi dokumen yang telah dikirimkan untuk mengikuti seleksi tingkat nasional.

“Kegiatan Penilaian Pemanfaatan TOGA merupakan salah satu implementasi dari program asuhan mandiri Pemanfaatan TOGA dan Akrupesur yang bertujuan mendorong masyarakat agar mampu mengatasi gangguan kesehatan ringan dengan prinsip kesadaran, keinginan sendiri, kebersamaan, kemandirian, komitmen dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat”, jelas Meinarwati.

Bupati Sleman Sri Purnomo yang menyambut langsung kedatangan tim penilai pusat menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga masyarakat Desa Banyuraden, Gamping atas prestasi yang telah diraih dalam bidang TOGA sejauh ini. Sri Purnomo berharap proses penilaian yang dilakukan dapat memenuhi seluruh indikator penilaian sehingga mampu mengantarkan Desa Banyuraden, Gamping sebagai pemenang dalam Lomba Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Tingkat Nasional.

“Semoga capaian ini semakin menambah semangat dan motivasi warga masyarakat dalam memanfaatkan dan mengembangkan hasil TOGA, sekaligus menjadikan Desa Banyuraden sebagai role model bagi desa lainnya dalam memanfaatkan pekarangan dan lahan lainnya untuk pengembangan tanaman obat yang pada akhirnya bermuara kepada penguatan ekonomi dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Sleman”, tutur Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo pemanfaatan TOGA merupakan salah satu upaya mendukung Program Indonesia Sehat yang mengedepankan paradigma sehat, yakni paradigma yang menekankan pada tindakan promotif dan preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan multi sector. Kedepan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di desa Banyuraden akan dimanfaatkan sebagai wisata TOGA.

Lebih lanjut Sri Purnomo menjelaskan bahwa melalui pengembangan TOGA, masyarakat secara mandiri dapat mengatasi masalah gizi melalui kecukupan makan sayur dan buah setiap hari. Masyarakat secara mandiri bisa memanfaatkan pekarangannya untuk memenuhi kebutuhan sayur, buah dan tanaman obat. Dengan pemanfaatan TOGA ini diharapkan tidak ada lagi “lahan tidur” di sekitar kita. Mengingat lahan tidur pun jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi sumber penyakit menular.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.