Arsip Kategori: Berita

17
May

Lestarikan Budaya, Kecamatan Ngemplak Gelar Lomba Dolanan Anak

Sleman, Senin  tanggal 16 Mei 2016 halaman Kecamatan Ngemplak dilaksanakan lomba Dolanan Anak yang diikuti oleh 12 Sekolah Dasar/SD  di Wilayah Kecamatan Ngemplak, Panitia Hari Jadi Kab.Sleman Kecamatan Ngemplak Beska, SH dalam sambutan pembukaan menyampaikan lomba dolanan anak yang diperankan atau dimainkan oleh murid-murid SD secara berkelompok antara 5 s/d 12 anak, diantaranya  jaranan, jamuran, permainan egrang, sepatu batok, jetungan, tembang – tembang anak,  dll. Juri  lomba dolanan anak ada 3 (tiga ) orang dari Guru kesenian yang ada di wilayah Kec.Ngemplak sarjana lulusan ISI.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyemarakkan dan memeriahkan  peringatan  Hari Jadi Ke- 100 Tahun atau Satu Abad Kabupaten Sleman. Panitia Hari Jadi menekankan  bahwa permainan dolanan anak ini merupakan  pelestarian terhadap permainan anak-anak waktu lampau  sebelum  tahun 1990 an, namun dengan perkembangan zaman  dan era digital yang sangat pesat, permainan atau dolanan anak pada saat ini sangat jarang dijumpa, padahal permainan dolanan anak ini sangat banyak makna pendidikan yang terkandung di dalammnya, di antaranya kekompakan, kejujuran, kebersamaan  yang akan menjadikan anak penuh tanggung jawab apabila terlibat dalam permainan tersebut.

Sementara itu Camat Ngemplak Subagyo dalam kesempatan yang sama menyampaikan dolanan anak memang harus dilestarikan dan diperkenalkan terhadap anak-anak sekarang,  jangan hanya mempelajari teknologi  permainan  yang ada Gadget  karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi dan melestarikan budanya. Adapun juara lomba dolan anak ini untuk juara I SD Randusari, Juara II SD Model, Juara III SD Kejambon. Untuk juara I mewakili Kecamatan Ngemplak direncanakan akan maju lomba tingkat Kabupaten pada akhir bulan Mei.

16
May

Prosesi Bedhol Praja Awali Peringatan 1 Abad Sleman


Puncak acara hari Jadi satu abad  Kabupaten sleman tahun 2016 didahului dengan penyerahan dokumen dari juru kunci /pengageng Ambarukmo kepada ketua pantia hadi jadi satu abad sleman Sukarno, SH. Hadir pada kesempatan tersebut semua camat dan kepala desa se kabupaten sleman. Untuk memeriahkan , terutama menandai satu abad kabupaten sleman tersebut semua punggawa yang terdiri dari camat, Kepala desa, Dimas/diajeng kabupaten sleman dan beberapa bregodo dengan menaiki kereta/andong sebanyak 25 kereta. Urutan kirab bregodo tersebut pertama pasukan berkuda yang terdiri tiga prajurit diikuti kereta yang dinaiki ketua panitia dan Kabag Organisasi, kereta dimas/diajeng dan diikuti pasukan/bregodo Camat dan kepala desa. Sebagai pembuka jalan diawali dengan kesenian gamelan yang dimainkan live di atas kendaraan tronton.
Kirab mengawal dokumen dari Ambarukmo tersebut dengan menyusuri  Jalan Solo ke arah barat sampai perempatan Pingit, menyusuri jalan Magelang dan kumpul di Tugu Adipura Mulungan, selanjutnya berangkat menuju Pendopo Parasamya kabupaten sleman dengan jalan kaki. Mekipun hujan deras namun tidak mengendorkan semangat bregodo untuk mengawal dokumen bersejarah tersebut.
DI Pendopo Parasamya dokumen yang dibawa dari Ambarukmo tersebut oleh ketua panita hari jadi satu abad sleman diserahkan kepada Bupati Sleman Sri Purnomo didampingi seluruh pejabat Pemkab Kabupaten Sleman. Prosesi Bedhol Projo merupakan sebuah upaya merekonstruksi salah satu peristiwa bersejarah pada masa Bupati Sleman dijabat oleh  KRT Murdodiningrat tahun 1964, memindah pusat pemerintahan Kabupaten Sleman dari Petilasan Dalem Pendopo Ambarukmo ke Desa Beran, Tridadi, Sleman. Pada masa ini pula Kabupaten Daerah Tingkat II Sleman memiliki lambang daerah dengan bentuk persegiempat yang melambangkan prasaja dan kekuasaan.
Pemaknaan filosofis dengan dipindahkannya pusat pemerintahan saat itu adalah untuk lebih mendekatkan pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Lokasi pusat pemerintahan berada di Desa Beran Kecamatan Sleman merupakan lokasi yang strategis berada pada tengah-tengah wilayah Kabupaten Sleman. Dengan momentum usia 1 abad  dan mengingat kembali nilai-nilai semangat bedhol projo, Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menyegarkan semangat pengabdiannya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Kabupaten Sleman.

 

16
May

Sultan HB X, Pimpin Langsung Peringatan 1 Abad Sleman


Puncak acara hari Jadi satu abad Kabupaten sleman tahun 2015 ditandai dengan Upacara di Lapangan Denggung Minggu 15  Mei 2015. Dalam puncak acara tersebut beberapa Bregodo di kabupaten sleman ditampilkan sebanyak 67 Bregada, antara lain Cucuk lampah, Pembawa pusaka dan Rontek, Bregada BSW Gamping, Bregada Abdi dalem Kabupaten Sleman, Bregada Paguyuban Sekar Sedah, Bregada Gandrungarum Cangkringan, dll  Disamping beberapa bregada yang mengikuti upacara , juga ada bregada Pamaos Donga dari Kemenag Sleman.
Dari beberapa Bregada tersebut diberangkatkan dari lima titik , yaitu dari Pendopo Parasamya kabupaten sleman, Perempatan KPU, Ngancar Kidul, Jalan Gito-Gati dan Mulungan. Acara diawali dengan pengambilan pusaka Tumbak Kyai Turunsih, Lambang Sleman, Juaja Mega Ngampak, Bendera Merah Putih dan Umbul-umbul yang selanjutnya dikirab menuju Lapangan Denggung. Upacara dipimpin oleh Inspektur Upacara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Pada Upacara Puncak Hari Jadi ke 100 Kabupaten Sleman,  Bupati Sleman Sri Purnomo melaporkan, peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman kali ini, merupakan peringatan satu abad usia Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman telah melwati berbagai dinamika baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Sehingga selama satu abad tersebut, telah membentuk kontruksi masyarakat dengan ciri khas sebagai masyarakat Sleman yang SEMBADA dan menjadi bagian yang tidak terpisahakan dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat, dan budaya Sleman menjadi salah satu sokoguru keistimewaan Yogyakarta. Dan sebaliknya, Keistimewaan Yogyakarta menjadi payung agung yang ngayomi, ngiyupi, dan ngayemi masyarakat dan budaya Sleman.
Lebih lanjut Sri Purnomo melaporkan bahwa Tema dalam peringatan 1 abad Kabupaten Sleman adalah “DENGAN HARI JADI KE-100 KABUPATEN SLEMAN KITA KEDEPANKAN NILAI-NILAI BUDAYA DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT SLEMAN SEMBADA”. Nilai-nilai budaya senantiasa menjadi kunci keberhasilan pembanguan dan pemerintahan di Kabupaten Sleman. Nilai-nilai budaya adiluhung yang termanifestasikan dalam kearifan lokal masyarakat, semangat kebersamaan dan kegotong royongan, serta peduli kepada sesama, menjadi modal dasar dalam menggerakkan roda pembangunan dan pemerintahan. Pemerintah dan masyarakat terus berupaya membumikan nilai-nilai budaya adilihung ini, dalam membangun karakter generesi Sleman yang tanggap, terampil, tangguh, berdaya saing, dan berbudi pekerti luhur.
Dengan bersendikan pada nilai-nilai budaya ini pula, berbagai tantangan dan hambatan yang mendera masyarakat Sleman, dapat kami atasi.  Namun dengan berlandaskan pada nilai-nilai budaya, masyarakat Sleman dapat segera bangkit, dan terus berupaya mewujudkan visi pembangunan yang kami tetapkan yaitu mewujudkan masyarakat Sleman yang lebih sejahtera, berdaya saing, dan berkeadilan gender.
Gubernur DIY dalam sambutannya antara lain menyampaikan Sabda Tama bahwa  dalam pemperingati hari jadinya ke 100  Kabupaten Sleman diharapkan akan dapat membawa masyarakat Sleman lebih sejahtera lagi, sebagaimana yang tertuang dalam slogan dan harapan masyarakat Sleman, yaitu Sleman Sembada.
Untuk mewujudkan Sleman yang Sembada harus dimulai dari  aksi nyata hal-hal yang kecil, termasuk sebagai PNS Kabupaten Sleman harus bersatu padu dengan seluruh elemen masyarakat  untuk mewujudkan Sleman Sembada, tanpa sinergitas seluruh elemen maka Sleman Sembada sulit untuk terwujud. Sri Sultan juga meminta untuk tetap memperhatikan budaya dan hukum sebagai pedoman dalam melaksanakan tata pemerintahan dan tata kemasyarakatan di Kabupaten Sleman.
Untuk memeriahkan acara dilapangan Denggung juga dipentaskan tari kolosal ASTUNGKARA SEMBADA  karya Adityanto Aji dengan sutradara  Feri Catur Haryanto, penata tari  Ari Kusumaningrum, Anang Wahyu Nugroho, Indra Wijaya dan Setiawan Jalu P . penata iringan  Aji Santoso Nugroho, dan penata busana oleh Agus Marwanto. Sinopsis ASTUNGKARA SEMBADA menggambarkan  Doa untuk merkamuran dan kejayaan Kabupaten Sleman pada masa datang. Sajian tari menceritakan perjalanan Kabupaten Sleman yang diawali  Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), erupsi Merapi dengan budaya labuhan Merapi,  kekacauan yang terjadi saat jaman  penjajahan Jepang,  dan diakhiri dengan munculnya KRT Pringgodiningrat dari dalam Tugu Sleman Sembada sebagai sosok Bupati pertama Sleman (1945-1947).
Diakhir rangkaian Upacara  dilakukan pelepasan  100 ekor burung merpati oleh Gubernur DIY dan Bupati sleman, serta devile pasukan peserta upacara yang mendapat sambutan yang cukup meriah dari tamu undangan dan masyarakat yang menyaksikan.
Upacara  Puncak Hari Jadi Sleman ke 100, juga dilakukan di Kantor Kecamatan dan setiap sekolah di Kabupaten Sleman dengan guru dan siswa juga memakan pakaian  kebaya adat Jawa bagi perempuan dan laki-laki memakai Surjan Mataraman Jangkep dengan tata upacara menggunakan tata Upacara Adat Ngayogyakarto Hadiningrat. Kegiatan ini dimaksudkan agar hari jadi dapat memasyarakat karena  Hari Jadi bukan merupakan milik Pemkab Sleman tetapi merupakan milik masyarakat Kabupaten Sleman dan lebih mengenalkan budaya daerah kepada para siswa. Sementara itu seluruh pegawai Pemkab Sleman diwajibkan memakai kebaya adat Jawa bagi PNS perempuan dan untuk PNS Laki-laki memakai Surjan Mataraman Jangkep. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat juga diwajibkan menggunakan bahawa Jawa Kromo.

 


Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.