Arsip Kategori: Berita

21
Nov

Penggunaan Bahasa Indonesia di Badan Publik Kurang Memadai

Balai Bahasa DIY bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman menyelenggarakan Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia bagi badan publik di Aula lantai III Kantor Setda Kabupaten Sleman, Senin (19/11/18). Kepala Balai Bahasa DIY, Pardi Suratno mengatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi karena kondisi penggunaan Bahasa Indonesia di badan publik, media massa dan media luar ruang pada lingkungan pemerintahan masih kurang memadai.

“Penggunaan bahasa di badan publik, media massa dan media luar ruang merupakan wajah dari penggunaan bahasa di negara ini. Kalau bahasa negara kita tidak berwibawa di tiga ranah itu artinya identitias ke-Indonesiaan kita masih di sanksikan,” jelas Pardi dalam acara yang diikuti sembilan puluh orang peserta perwakilan OPD di Lingkup Pemkab Sleman tersebut.

Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi badan publik difokuskan pada penggunaan bahasa laporan dinas. Sedangkan penyuluhan Bahasa Indonesia bagi media massa difokuskan pada penggunaan bahasa laman instansi pemerintah.

“Untuk penyuluhan bahasa Indonesia bagi media luar ruang difokuskan pada penggunaan bahasa papan petunjuk objek wisata,” tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumadi yang hadir membuka penyuluhan tersebut menuturkan bahwa penyuluhan ini merupakan salah satu upaya untuk meluruskan dan membudayakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa dan bahasa resmi dalam berbagai bidang termasuk pemerintahan, dunia kerja dan dunia pendidikan.

“Pemkab Sleman sebagai pihak yang menjadi rujukan dan teladan masyarakat, maka aparatur negara memiliki tugas dan kewajiban untuk menjadi penutur bahasa Indonesia,” jelas Sumadi.

Menurutnya, Pemkab Sleman telah menerbitkan dua regulasi yakni Peraturan Bupati No. 5 Tahun 2012 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemkab Sleman dan Peraturan bupati No. 13.1 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Reklame. Perbup tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam membudayakan penggunaan bahasa Indonesia.

Kedua produk hukum tersebut diharapkan mampu meredam penyalahgunaan bahasa Indonesia khususnya di bidang pemerintahan dan di media luar ruang. Terlebih saat ini perkembangan media luar ruang sudah mulai menganggu kenyamanan warga bahkan cenderung menjadi sampah visual.

“Oleh karena itu saya mengapresiasi upaya Balai Bahasa untuk memberikan arahan bagi para produsen media massa dan media luar ruang sehingga menghasilkan keluaran yang mendidik dan mengokohkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,” pungkasnya.

21
Nov

Relawan Sleman Siap Tanggulangi Musim Pancaroba

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, hadir dalam apel relawan yang merupakan acara puncak dari Jambore/Kemah Relawan Bencana Kabupaten Sleman Tahun 2018, Minggu (18/11), di barak pengungsian Purwobinangun, Pakem, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman dengan Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS).

Sri Muslimatun mengapresiasi dan mendukung penuh atas diselenggarakannya acara tersebut. Dia berharap sinergi antara Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman dapat terus ditingkatkan. Dengan begitu, menurutnya upaya mitigasi bencana di Kabupaten Sleman dapat dilakukan secara efektif dan dapat menekan risiko jatuhnya korban ketika terjadi bencana. “Sleman harus siap menghadapi bencana, salah satunya dengan meningkatkan kinerja dan ketrampilan para relawan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa keberadaan FKKRS sangat penting di Kabupaten Sleman. Bukan tanpa alasan, hal ini menurutnya tak lepas dari kondisi Kabupaten Sleman yang rentan terhadap ancaman bencana. Di samping itu, dengan adanya FKKRS tersebut  Sri Muslimatun berharap dapat menjadi sarana koordinasi bagi seluruh relawan yang ada di Kabupaten Sleman. “Setiap mitigasi bencana membutuhkan dukungan dari masyarakat. Semoga dengan adanya FKKRS ini koordinasi antar relawan bisa lebih baik lagi,” kata Sri Muslimatun.

Sementara Joko Supriyanto selaku Kepala Pelaksana BPBD Sleman mengatakan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab kita bersama. Dikatakan bahwa Jambore tersebut merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD Sleman dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana. “Salah satunya sebagai upaya kesiapsiagaan relawan penanggulangan bencana dalam menghadapi musim pancaroba sekarang ini,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan pengurus FKKRS oleh Wakil Bupati Sleman. Setelah itu Sri Muslimatun menyerahkan Kartu Identitas Relawan (KIR) secara simbolis kepada perwakilan relawan. Acara dilanjutkan dengan pengumuman hasil lomba yang diadakan oleh BPBD Sleman. Jambore dimulai pada hari Sabtu tanggal 17 November 2018 dan ditutup pada tanggal 18 November 2018 bertempat di Barak Pengungsian Purwobinangun, Pakem, Sleman. Peserta berjumlah 950 orang yang terdiri dari unsur Komunitas Relawan Penganggulangan Bencana Sleman, relawan anggota Desa Tangguh Bencana (DESTANA), Unit Pelaksana dan Operasional Penanggulangan Bencana, anggota LINMAS Desa, dll.

Narasumber pada kegiatan tersebut berasal dari pejabat struktural BPBD Sleman, Dinas Kesehatan Sleman, Tim DVI Polda DIY, Tim Dokpol RS. Bhayangkara, Basarnas, PMI, Pemadam Kebakaran Sleman, Pusdalop BPBD Sleman, Tagana dan Tim Sioux. Adapun tema yang diangkat pada Jambore tersebut adalah “Dalam Rangka Peningkatan Kapasitas Dan Upaya Kesiapsiagaan Komunitas Relawan Penanggulangan Bencana Di Kabupaten Sleman Dalam Menghadapi Musim Pancaroba, Serta Kegiatan Pembinaan Partisipasi Masyarakat Dalam Penaggulangan Bencana”.

19
Nov

Kembangkan Desa Wisata, Sleman Terapkan Konsep ‘One Hotel-One Village’

Sebanyak 24 Desa Wisata ramaikan Festival Desa Wisata yang berlangsung di Desa Wisata Kelor, Bangunkerto, Turi pada Minggu (18/11/18). Kegiatan yang berjalan ketiga kalinya ini berlangsung meriah karena bersamaan dengan kegiatan Jogja International Heritage Walk (JIHW) 2018 yang diikuti 350 peserta dari 25 Negara. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih menjelaskan bahwa pelaksanaan festival desa wisata sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu dengan penilaian dari juri mulai hari Kamis (11/10/2018) sampai dengan Sabtu (10/11/2018). Dari penjurian tersebut 31 desa wisata di Sleman turut ambil bagian dalam Festival Desa Wisata 2018 yang diklasifikasi menjadi 22 desa wisata tumbuh dan berkembang dan 9 desa serta disaring menjadi 24 nominator. “Even di Desa Wisata Kelor ini adalah grand final. Masing-masing peserta menampilkan kuliner, kesenian, serta kerajinan khas desa wisata masing-masing,” Jelas Sudarningsih.

Sudarningsih menambahkan bahwa desa wisata tersebut dinilai oleh juri baik dari akademisi, penggiat budaya, dan juga konsultan.  Adapun pemenang dalam festival desa wisata yaitu kategori Tumbuh juara I  Pulewulung, juara II  Gabugan,  juara III Nganggring, harapan I Sangurejo, harapan II Sempu dan harapan III Karang Tanjung. Juara favorit kategori tumbuh yaitu Sempu, Pulewulung dan Sangurejo. Untuk kategori berkembang juara I Pancoh,  juara II Garongan,  juara III Sukunan,  harapan I Blue Lagoon, harapan II Kadisobo,  harapan III Nawung. Juara favorit kategori berkembang yaitu Blue Lagoon, Sukunan dan Pancoh. Untuk kategori mandiri juara I Pulesari, juara II Pentingsari, juara III Grogol, harapan I Brayut,  harapan II Gamplong dan  harapan III Kelor. Juara favorit kategori mandiri yaitu Pulesari, Brayut dan Grogol. Juara favorit merupakan juara pementasan kesenian yang ditampilkan tiap peserta desa wisata yang dilaksanakan saat grand final.

Sementara itu Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun yang hadir membuka acara tersebut mengatakan bahwa Festival Desa Wisata merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan pengembangan desa wisata di Kabupaten Sleman. “Selain itu penyelenggaraan festival ini sebagai ajang promosi karena dinikmati juga oleh peserta JIHW dari berbagai negara,” kata Muslimatun.

Muslimatun menuturkan dengan semakin banyaknya desa wisata yang dikelola dengan baik oleh masyarakat, tentunya akan menambah jumlah wisatawan yang berkunjung di Sleman. Saat ini jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sleman menunjukkan tren positif yaitu sebanyak 7.226.595 pada tahun 2017. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2016 yang hanya sebanyak 5.321.038 wisatawan berkunjung ke Sleman. “Namun  perlu diingat bahwa proses pengembangan desa wisata perlu memperhatikan pengemasan potensi desa wisata  serta promosi terus menerus, sehingga kontinuitas kunjungan wisata dapat terus dipertahankan,” tambah Muslimatun.

Dalam kegiatan Festival Desa Wisata 2018 ini, Dinas Pariwisata Sleman juga  melaunching program One Hotel One Village atau satu hotel mendampingi satu desa wisata. Launching tersebut ditandai dengan penandatanganan kerjasama antara Hotel Grand Tjokro dengan Desa Wisata Pule Wulung, Bangunkerto, Turi dan Hotel Cakra Kusuma dengan Desa Wisata Pancoh, Girikerto, Turi.  Saat ini dua hotel lainnya yaitu Hotel Grand Keysha dan Hyatt Regency juga telah berkomitmen untuk mendukung program ini.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.