Arsip Kategori: Berita

12
Dec

Sleman Berbasis Budaya Harus Didasari Komitmen dan Kesepahaman Bersama

Bertempat di resto Banyumili tanggal 10 Desember telah berlangsung sarasehan Budaya, yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ayu Laksmi Dewi dan dihadiri budayawan Kabupaten Sleman Nano Asmorondono, Pelaku Seni, Budayawan Guru seni Mahasiswa dan Tamu undangan lainnya dihadiri lebih kurang 100 orang. Hadir pula Staf Ahli Bupati Bidang SDM dan Kemasyarakatan Drs. Dwi Supriyatno.MS dan Camat Gamping,.

Dalam kesempatan tersebut Ayu Laksmi dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas dan tanggung jawab pengembangan budaya di Sleman menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pengembangan pembangunan Sleman berbasis budaya tidak bisa ditawar lagi dan harus diwujudkan, terlebih dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebudayaan harus menjadi roh dalam gerak pembangunan,pemerintahan, dan seluruh segi kehidupan masyarakat. Salah satu point penting dalam keistimewaan DIY, adalah upaya dan tekad seluruh masyarakat Yogyakarta dalam memelihara, dan mendayagunakan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang berupa nilai-nilai, pengetahuan, norma, adat istiadat, benda, seni, dan tradisi luhur yang mengakar dan masyarakat DIY. Pengembangan Sleman berbasis budaya menjadi tanggungjawab bersama Pemerintah, Masyarakat dan Swasta. Berkenaan dengan hal tersebut, maka dalam mengembangkan Sleman berbasis budaya harus didasari pada komitmen dan kesepahaman bersama.

Keberadaan RPJM Kabupaten Sleman yang disusun pada tahun 2010 belum memasukan secara aspek pengembangan budaya dalam konteks keistimewaan Jogjakarta. Oleh karena itu langkah awal harus dilakukan penyempurnaan RPJM yang lebih mensinergikan pengembangan budaya dengan esensi keistimewaan Jogjakarta. Selain itu secara paralel juga harus dilakukan penyusunan rencana induk pengembangan budaya di Kabupaten Sleman. Seiring dengan era globalisasi ekonomi, informasi dan kemajuan teknologi terdapat pengikisan budaya. Banyak masyarakat meninggalkan budaya lokal, yang sebenarnya keanekaragaman budaya lokal memiliki nilai nilai yang sangat baik sebagai landasan tatanan kehidupan saat ini dan masa datang. Pengikisan budaya tersebut secara terus menerus akan mengakibatkan masyarakat dan bangsa kita kehilangan identitas diri. Banyak masyarakat lupa bahwa pembentukan Pemerintah Indonesia didasari dengan spirit dan komitmen untuk membangun Indonesia dengan kekayaan budaya yang berupa keragaman. Bahkan nilai-nilai dasar Negara Kita ”Pancasila” diformulasikan dari kekuatan budaya kita. Oleh karena itu, pekerjaan rumah kita adalah bagaimana memupuk dan mengembangkan budaya lokal untuk membangun karakter masyarakat dan bangsa.

Melalui sarasehan tersebut, diharapkan dilakukan instrospeksi terhadap realisasi pengembangan budaya dalam membagun Sleman dan bahkan juga menemukan akar permasalahan dan solusi yang perlu dilakukan agar pembangunan masyarakat di Sleman benar benar berbasis budaya Jogjakarta. Kita harus ingat dengan perjuangan para pendahulu kita, pada zaman Sri Sultan HB IX ketika beliau diangkat menjadi pegawai pemerintah yang pertama dalam pidato beliau senantiasa mengedepankan sebagai orang timur meskipun telah mengenyam pendidikan barat sebenarnya. Hal ini berarti bahwa meskipun bersekolah di luar negeri namun beliau tetap ”nguri-uri” dan memegang teguh kepribadiannya maupun budaya-nya. Hal inilah yang seharusnya menjadi motivasi untuk senantiasa berpegang teguh pada budaya melalui berbagai upaya agar hasil yang dicapai juga semakin optimal. Didalam membangun Sleman berbasis budaya, ancaman tidak hanya dari kebudayaan luar tetapi juga dari dalam. Oleh karena itu aparat penyelenggara negara di semua sektor, swasta dan lembaga pendidikan dan masyarakat perlu disamakan komitmen dan pemahamannya, agar kekayaan nilai-nilai budaya Ngayogyakarta tidak terkikis oleh masyarakatnya sendiri.

Budaya menjadi salah satu keistimewaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Berkenaan dengan hal tersebut, Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta harus diedukasikan dan diimplementasikan oleh seluruh lapisan masyarakat baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Tata nilai budaya Yogyakarta yang tertuang dalam perda tersebut dimaksudan untuk melestarikan nilai-nilai budaya Jawa dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Tata nilai tersebut meliputi tata nilai religio-spiritual, nilai moral, kemasyarakatan, adat dan tradisi, pendidikan dan pengetahuan, teknologi, penataan ruang dan arsitektur, mata pencaharian, kesenian, bahasa, benda cagar budaya dan kawasan cagar budaya, kepemimpinan dan pemerintahan, kejuangan dan kebangsaan serta semangat keyogyakartaan. Upaya untuk meningkatkan kepedulian semua masyarakat terhadap budaya lokal harus dimulai sejak dini dan dilakukan internalisasi rasa bangga terhadap budaya sendiri mulai dari keluarga dan lingkungan sekolah. Oleh karena itu dalam membangun budaya harus melibatkan semua unsur masyarakat.

12
Dec

Tahun 2013 Pemkab Salurkan Dana Hibah 8 Milyar Untuk Pemberdayaan

Sebagai wujud kesinambungan  penyelenggaraan pembangunan terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan stimulant hibah Dana Pemberdayaan Masyarakat (DPM) kepada kelompok usaha di Kabupaten Sleman Tahun 2013 sekaligus memberikan Penghargaan bagi kelompok usaha berprestasi penerima hibah DPM Tahun 2011. DPM disampaikan pada Rabu, 11 Desember 2013 bertempat di Aula Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman. Hadir dalam acara ini Sekretaris Daerah Sleman, dr. Sunartono, M.Kes, Wakil Ketua DPRD, Ir. H. Rochman Agus Sukamto dan Asisten Sekda Bidang Pembangunan, Dra. Suyamsih, M.Pd.

Sekretaris Daerah Sleman, dr. Sunartono, M.Kes dalam sambutannya menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan stimulant, dengan demikian diharapkan masyarakat penerima bantuan dapat mengembangkan usahanya dan bukan justru bergantung pada bantuan yang diberikan. Perlu diingat bahwa bantuan ini tidak bersifat rutin. Kelompok yang menerima bantuan maksimal menerima bantuan 2 tahun berturut-turut dengan syarat memberikan laporan realisasi penggunaan dana dan laporan perkembangan pemanfaatan dana tersebut. Untuk memfasilitasi pembuatan laporan ini, pada acara penyerahan DPM ini juga dilaksanakan Sosialisasi Penyusunan Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hibah 2013.

Tahun ini diserahkan dana hibah sebesar Rp. 8.828.000.000,00 kepada sejumlah 1.126 kelompok yang telah lolos verifikasi. Kelompok ini merupakan hasil penyaringan dari 1.864 kelompok yang mengajukan proposal ke Bagian Perekonomian Sleman. Sebanyak 738 proposal yang terpaksa ditolak diantaranya disebabkan karena proposal telah diajukan ke SKPD lain, kelompok pernah menerima bantuan pada tahun 2000-2011 dan tidak memenuhi laporan rutin, rencana anggaran biaya yang tidak jelas, kelompok dinilai telah mampu mengakses dana penguatan modal dari perbankan.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Sleman, Ir. Caecilia Christiani Ambarwati, MM melaporkan bahwa 231 kelompok pada tahap pertama telah mendapatkan pencairan dana pada bulan November 2013 yang lalu sedangkan 895 kelompok yang lain dengan total dana Rp. 7.335.000.000,00 akan menerima transfer dana pada bulan Desember 2013 ini. Dana hibah yang disalurkan ini berasal dari APBD DIY sebesar Rp. 4.300.000.000,00 dan APBD Sleman sebesar Rp. 4.528.000.000,00. Kepala Bagian Perekonomian Sleman mengingatkan kepada para penerima hibah bantuan bahwa setelah pencairan dana, para penerima hibah harus mengumpulkan laporan realisasi penggunaan hibah DPM  2013 selambat-lambatnya pada 2 Januari 2014 sedangkan Laporan Perkembangan Penggunaan Dana Hibah per semester dikumpulkan pada 5 Juli 2013 dan 5 Januari 2014. Dengan pelaporan yang tertib, maka penerima dana hibah berkesempatan mendapatkan bantuan dana hibah berikutnya serta mendapatkan reward seperti yang diterima oleh 51 kelompok usaha penerima hibah DPM tahun 2011 sebesar masing-masing Rp. 1.000.000,00.

11
Dec

46 Peserta Ikuti PMPS di Anjungan Sleman

Pemkab Sleman melalui Bagian Humas mengikuti Pameran Potensi Daerah di Arena Perayaan Sekaten tahun 2013/2014 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut sekaligus sebagai upaya untuk mempromosikan dan menginformasikan potensi masyarakat Sleman. Pameran Sekaten tersebut dilaksanakan selama 40 hari, dimulai pada hari Jumat, tanggal 6 Desember 201314 Januari 2014.

Tema yang diusung Pemkab Sleman yaitu ”guyub rukun golong gilig, mengembangkan kualitas potensi daerah untuk mendorong cinta produk lokal”.  Anjungan Pemkab. Sleman berbentuk bangunan pendopo dengan luas bangunan 10×16 M2 . Materi pameran diprioritaskan untuk informasi seputar kreativitas masyarakat Sleman, potensi dan berbagai upaya pembangunan lainnya. Selain itu juga menampilkan foto hasil pembangunan, dan produk masyarakat yang merupakan potensi unggulan di Kabupaten Sleman berupa kerajinan, makanan olahan, dan pertanian dll. Peserta pameran adalah, perajin binaan Bidang Perindustrian dan kelompok tani binaan dari Dinas Pertanian, dan Dinas Budpar.  Jumlah peserta yang mengikuti PMPS adalah 46 peserta pameran, yang dibagi kedalam 4 shift.  Di lokasi anjungan Kab. Sleman juga menjual jajanan pasar seperti thiwul, cenil, ketan juruh, gethuk, aneka jamu, bakso dengan bahan-bahan sayuran, dan lain-lain.

Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.