Arsip Kategori: Berita

19
Aug

Upacara Detik Detik Proklamasi di Sleman

Pengambilan Bendera Pusaka Sang Merah Putih di Pendopo Parasamya Sleman menandai dimulainya Upacara Detik Detik Proklamasi dan pengibaran bendera dalam rangka Peringatan HUT ke 68 Proklamasi Kemerdekaan RI di Kabupaten Sleman yang dilaksanakan di Lapangan Denggung, Sabtu,  17  Agustus 2013. Bendera Pusaka diserahkan oleh Sekda Sleman dr. Sunartono, MKes dan diterima oleh Anggota Paskibraka.

Dalam upacara yang berlangsung dengan hikmat tersebut Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI, menjadi Inspektur Upacara. Tepat pukul 10.10 WIB bunyi sirine meraung-raung menandai upacara detik-detik Proklamasi dilanjutkan dengan pembacaan teks proklamasi oleh Ketua DPRD Sleman, Koeswanto, SH. Kemudian dilanjutkan pengibaran Bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Kabupaten Sleman.

Upacara diikuti oleh pasukan dari berbagai unsur diantaranya dari pasukan PNS, TNI Polri,  pelajar SLTP dan SLTA, karyawan perusahaan, organisasi dsb. Nampak hadir di kursi tamu undangan Anggota MUSPIDA, Wakil Bupati Sleman, Sekda, Assekda, Unsur Pimpinan Daerah Sleman, anggota DPRD dan pejabat Sleman, mantan Bupati Sleman Drs. H. Samirin beserta isteri dan mantan wakil Bupati Sleman H. Zaelani, SPd. MPDI, mantan Ketua DPRD Kamil Sugema dan para Veteran.
Sore harinya dilaksanakan aubade dan bertindak selaku Irup Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu. Aubade diawali dengan parade penampilan Paduan Suara lagu-lagu perjuangan serta Drumband dan Marching Band.



15
Aug

Bupati Sleman Peduli Pendidikan dan Ketrampilan Bagi Warga Binaan Lapas

Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI, menaruh perhatian yang besar terhadap keberlangsungan pendidikan anak usia sekolah bagi warga binaan di Lapas Cebongan. Pemkab Sleman telah mencanangkannya semua anak di Sleman harus lulus minimal SMA/SMK. Hal tersebut berlaku untuk anak usia sekolah yang sedang menjalani masa hukuman di Lapas Cebongan agar mereka juga tidak ketinggalan dengan anak-anak yang lain. Hal ini disampaikan Bupati saat menerima audiensi Kalapas Cebongan yang baru, Suprihanto, BCIP, SPD. di ruang kerjanya Selasa, 13 Agustus 2013. Berkenaan dengan hal tersebut, Bupati menugaskan Kabid PLSPO Dinas Pendidikan untuk memfasilitasinya melalui kejar Paket B maupun Paket C. Keberadaaan PKBM Budhi Dharma Mlati di LP Cebongan perlu diaktifkan kembali. Untuk membentuk kemandirian warga binaan, Bupati juga mempersilahkan Lapas berkoordinasi dengan Balai Latihan Kerja, agar warga binaan Lapas memiliki ketrampilan yang bermanfaat. Selain itu itu agar penghuni Lapas memiliki aktifitas keseharian untuk menghindari kejenuhan dan stres selama menjalani masa hukuman di Lapas dan mampu menghasilkan produk yang bernilai ekonomis.

Program ini menurut Kalapas juga telah dilaksanakan bahwa selama ini juga telah ada program pelatihan dan keterampilan. Ke depan akan di tambah dengan pembuatan kebun sayuran yang memanfaatkan tanah yang masih ada untuk menambah kegiatan warga binaan.

Pada kesempatan tersebut Kalapas yang baru menjabat beberapa bulan melaporkan bahwa di Lapas terdapat 12 penghuni yang berstatus anak-anak. Selain itu juga banyak tahanan yang memiliki masa tahanan  diatas 5 tahun. Pada saat ini terdapat 325 napi dari kapasitas Lapas 163 napi dan 19 napi perempuan. Untuk memberikan aktifitas pada warga binaan, selain memberikan keterampilan mebelair, sablon dan kerajinan bambu, Lapas juga sedang mempersiapkan pembuatan kebun sayur untuk memberikan keterampilan pertanian dengan memanfaatkan lahan yang ada di sekitar Lapas.

Kalapas Suprihanto juga memohon Bupati untuk menyerahkan remisi pengurangan masa tahanan kepada 142 napi dan pembebasan kepada 17 napi.  Kalapas juga melaporkan bahwa dalam masa jabatan yang baru sekitar 2 bulan, kasus yang banyak adalah kasus penggelapan mobil rental yaitu sebanyak 6 kasus. Korbannya adalah para mahasiswi ataupun remaja putri karena disuruh pacarnya untuk meminjam kendaraan dengan alasan sang pacar tidak memiliki/membawa kartu identitas. Modus seperti ini perlu disosialisasikan pada masyarakat Sleman agar dikemudian tidak terjadi lagi korban serupa.

Pada kesempatan tersebut, Kalapas juga melaporkan kendala keterbatasan tempat untuk melakukan pembinaan rohani bagi warga binaan yang muslim. Masjid yang ada hanya berukuran 8×8 meter dengan kapasitas 70 orang. Selain itu juga mengundang Bupati untuk sholat Jumat bersama warga binaan.
15
Aug

Early Warning System Akan Meriahkan Detik-Detik Proklamasi

Sleman, 14 Agustus 2013, Sekda Kabupaten Sleman, dr.Sunartono,M.kes, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Drs.Julisetiono,MM, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dra. AAA. Laksmi Dewi, MM dan Kabag. Humas Dra.Endah SW, MPA mengadakan press conference terkait tersesatnya wisatawan asal Rusia yang melakukan pendakian di lereng Merapi.

Dalam keterangannya Sekda Sleman, menyatakan bahwa potensi pariwisata dan keindahan Gunung Merapi pasca erupsi memang mengundang banyak wisatawan baik dari manca negara maupun dalam negeri untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Merapi, oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sleman terus mencoba memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya agar wisatawan yang melakukan kunjungan ke Marapi dapat menikmati kunjungannya secara nyaman dan juga aman.  Namun pelayanan tersebut tidak dilakukan langsung oleh pemerintah, tetapi banyak yang dilakukan oleh masyarakat, misalkan volcano tour, wisata pendakian, dan lain-lain.  Untuk itu pemerintah berusaha melakukan upaya agar para wisatawan tersebut dapat menikmati keindahan Merapi dengan sebaik-baiknya dan juga dapat terjamin keselamatannya.

Guna menjamin keselamatan dan kenyamanan para wisatawan tersebut pemerintah akan menyiapkan pos-pos SAR yang menyediakan pemandu, peta, dan perlengkapan lainnya  agar para wisatawan yang akan melakukan pendakian dapat terpantau dengan baik, dulu sebelum erupsi merapi 2010 kediaman Mbah Marijan di Kinahrejo digunakan sebagai pos, dan wisatawan yang akan mendaki selalu mampir kesana dan akan dipandu oleh pemandu lokal, sehingga meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan seperti kejadian baru-baru ini yaitu seorang Wisatawan asal Rusia yang tersesat dan hingga hari ini belum ditemukan.

Sekda, juga berharap agar masyarakat juga menjaga rambu-rambu atau penunjuk jalan yang ada di Gunung Merapi agar para pendaki dapat melakukan pendaki dengan baik dan aman, selain itu pemkab. Sleman akan memfasilitasi izin bagi para pemandu, oleh Dinas Budpar dan nantinya juga akan disiapkan pelatihan bagi para pemandu, sekda Sleman juga menghimbau bagi para pendaki agar selalu “kulo nuwun” atau meminta izin  di posko-posko yang ada, sehingga dapat terpantau siapa-siapa saja yang melakukan pendakian, karena bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat segera dilakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Kepala BPBD, juga memberikan keterangan bahwa, hingga saat ini belum ditemukan wisatawan tersebut, BPBD, SAR, Tagana, dan relawan sudah melakukan pencarian dan penyisiran di lokasi-lokasi yang diduga menjadi lokasi terakhir wisatawan tersebut melakukan kontak.  Di pos Kinahrejo sudah didirikan dapur umum, dan sudah disiapkan tenaga medis, untuk hari ini 80 orang dari berbagai unsur melakukan pencarian dan penyisiran terhadap wisatawan tersebut.  Dalam kondisi aktif normal memang banyak sekali wisatawan yang melakukan pendakian, BPPTK memberikan rekomendasi apabila melakukan pendakian untuk dari jalur selatan batas puncak Kendit, apabila melewati jalur utara batas puncak ada di Pasar Bubrah.  BPPTK juga menyarankan apabila melakukan pendakian dihimbau untuk melalui jalur aman yaitu jalur utara.  Setelah erupsi merapi memang jalur yang ada menjadi berubah, untuk itu harus ada pemandu yang mengetahui peta jalur pendakian yang aman dan terbaru.

Kepala Disbudpar, menambahkan bahwa peminat wisata merapi setiap tahun semakin meningkat, sehingga nantinya Disbudpar dengan instansi terkait akan segera mengaktifkan pos yang ada di Pangukrejo, sehingga wisatawan yang akan melakukan pendakian dapat tercatat dengan baik, dan juga dapat diberikan pengarahan tentang standar keselamatan dalam melakukan pendakian, sehingga dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Ayu juga menambahkan bahwa setelah erupsi merapi 2010 ada banyak hal yang harus dibenahi terutama mengenai wisata Gunung Merapi.

Dalam rangka memperingati HUT RI ke-68, Julisetiono juga akan melakukan pengecekan kondisi  Early Warning System (EWS), yang rencananya akan dibunyikan pada saat detik-detik proklamasi RI.  Dengan dibunyikannya 12 EWS yang berada di 12 lokasi ini nanti akan dilakukan evaluasi apakah perlu adanya penambahan atau perbaikan EWS tersebut.  Dengan demikian nantinya EWS tersebut dapat diketahui kondisinya, apakah berfungsi dengan baik atau tidak, sehingga ketika dibutuhkan dapat berfungsi dengan baik.  Pemkab. Sleman juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar ketika EWS di bunyikan tidak terjadi kepanikan.  Dari 12 titik EWS tersebut ada 7 titik EWS yang dapat dibunyikan dari 1 lokasi di Denggung  dan 5 titik EWS dibunyikan secara manual oleh petugas.  Ke depan semua titik EWS dapat dibunyikan secara serentak. Tujuh titik tersebut adalah EWS di Padukuhan Kalitengah Lor, Srunen, Batur, Tangkisan, Turgo, Kemiri dan Pulowatu


Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper,
maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.